Lalat Tsetse, Lalat Asal Afrika yang Berbahaya

Pernahkah kalian mendengar tentang seekor lalat yang bisa menyebabkan penyakit tidur hingga koma dan meninggal dunia? Ya, lalat tsetse adalah jawabannya. Lalat yang satu ini banyak ditemukan di daerah Afrika dan diketahui menjadi penyebab dari penyakit tidur. Lalat ini bisa jadi sangat membahayakan bagi manusia karena gigitannya juga bisa menyebabkan kematian. Berikut ini akan kita bahas tentang lalat asal Afrika selengkapnya. Yuk, simak!

Ciri Lalat Tsetse

lalat tsetse

Gambar Oleh: https://www.vantage.id/

Lalat tsetse adalah sejenis lalat dengan ukuran jumbo yang berasal dari Afrika. Lalat ini hidup dengan meminum darah vertebrata termasuk manusia. Di Afrika, sudah ditemukan setidaknya 20 spesies lalat tsetse yang berbahaya ini.

Secara umum, lalat ini terlihat seperti lalat-lalat pada umumnya. Hanya saja, ada beberapa ciri menonjol yang bisa kalian pelajari. Diantaranya adalah :

  1. Terdapat sepasang mata yang berukuran besar
  2. Pada bagian punggung, ada sepasang sayap transparan dan terlipat
  3. Memiliki moncong atau proboscis yang panjang seperti jarum pada bagian kepala
  4. Tubuhnya berwarna kemerahan
  5. Tubuhnya berukuran lebih besar dibandingkan lalat pada umumnya.
  6. Memiliki gaya terbang unik yaitu terbang dengan diam di suatu tempat dalam waktu yang lama
  7. Bagian ekornya berwarna belang dengan gradasi warna kuning kehijauan atau kehitaman

Daur Hidup Lalat Tsetse

lalat tsetse

Gambar Oleh: https://jenis.net/

Lalat tsetse terlahir dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan lalat pada umumnya. Lalat ini memiliki siklus hidup yang cukup unik karena telur tidak diteteskan di luar tubuh induknya. Induk lalat akan menyimpan telur di dalam tubuh sehingga lalat menetas.

Saat telur menetas menjadi larva, mereka tetap berada di dalam tubuh induknya. Mereka hidup dengan cara mengonsumsi cairan yang dihasilkan oleh kelenjar tubuh induknya. Cairan ini nampak seperti susu.

Larva akan tumbuh besar dalam tubuh induknya. Setelah cukup besar, larva akan keluar dari tubuh induk seperti dilahirkan. Sayangnya, waktu hidup larva lalat di luar cukup singkat. Hanya dalam waktu beberapa jam saja karena mereka akan menjalani fase selanjutnya yaitu kepompong.

Setelah menjalani daur hidup sebagai kepompong, lalat tsetse dewasa terlahir. Lalat tsetse dewasa makan dari darah mamalia yang dihisapnya. Mereka bertahan hidup dalam jangka waktu kurang lebih 4 bulan.

Lalat Tsetse Penyebab Penyakit Tidur

lalat tsetse

Gambar Oleh: https://kumparan.com/

Lalat tsetse menghisap darah inangnya dan mentransmisikan parasit. Lalat ini menjadi pembawa parasit yang disebut dengan Trypanosoma. Parasit ini dapat menyerang binatang ternak dan manusia serta menyebabkan penyakit tidur.

Penyakit tidur merupakan sejenis penyakit yang menyerang sistem syaraf manusia. Gigitan lalat pada manusia akan meninggalkan hemoflagellata dalam darah. Hemoflagellata adalah protozoa yang dapat bergerak dalam aliran darah.

Protozoa ini akan bergerak menuju otak dan menyebabkan penyakit tidur. Serangan parasit ini memang tidak akan dirasakan secara langsung dampaknya. Parasit ini memiliki 2 jenis. Pertama Trypanosoma brucei gambiense yan bergerak dengan lambat dan bisa hidup sampai 1 hingga 2 tahun lamanya. Sedangkan yang kedua, Trypanosoma brucei rhodesiense yang dapat bergerak dalam waktu beberapa minggu.

Berikut ini adalah ciri-ciri penyakit tidur yang disebabkan oleh gigitan lalat tsetse, yaitu :

1. Tahap Pertama

Gigitan lalat tsetse tidak serta merta menimbulkan bahaya bagi korbannya. Pada tahap awal, korban akan merasakan beberapa hal berikut ini, yaitu :

  • Luka
  • Ruam
  • Gatal
  • Kemerahan
  • Lemas berkepanjangan
  • Panas atau demam
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Penurunan berat badan

2. Tahap Kedua

Ketika parasit telah mengifeksi sistem syaraf korbannya, barulah kemudian akan terasa gejala penyakit tidur. Berikut ini adalah beberapa gejalanya yaitu :

  • Rasa kantuk berlebihan di siang hari
  • Mengalami perubahan atau gangguan kepribadian
  • Mengalami gangguan keseimbangan tubuh
  • Mengalami insomnia atau gangguan tidur
  • Mengalami lumpuh sebagian
  • Kematian (Apabila gejala ini tidak segera diobati)

Lalat tsetse membuat beberapa wilayah di Afrika menjadi tempat yang tidak layak untuk dihuni. Sejauh ini, sudah banyak kasus kematian yang diakibatkan oleh lalat mematikan ini. Oleh sebab itu, jika berencana berkunjung ke Afrika, kalian harus ekstra hati-hati dan mempersiapkan perjalanan dengan sebaik-baiknya. Untuk saat ini, lalat ini memang belum ditemukan di daerah Asia, namun tidak menutup kemungkinan penyebarannya akan lebih meluas. Semoga kita selalu waspada.

Leave a Reply