Kenalan dengan Pangeran Diponegoro, Pahlawan yang Ditakuti Belanda

Pangeran Diponegoro merupakan salah satu pangeran yang paling populer di Indonesia. Hal ini disebabkan karena pangeran dari Jogja ini merupakan salah satu pahlawan paling berani serta memimpin perang yang paling besar sehingga beliau ditakuti oleh Belanda. Untuk Teman-Teman yang penasaran dengan pangeran asal Jogja ini, berikut ini adalah ulasannya. 

Asal Usul Pangeran Diponegoro

pangeran diponegoro

Gambar Oleh: https://news.detik.com/

Seperti disebutkan sebelumnya, Pangeran Diponegoro merupakan pangeran dari keraton Jogjakarta, beliau lahir dari Sultan Hamengkubuwono III dan dari ibu selir yaitu RA Mangkarawati. Beliau lahir dengan nama Bendara Raden Mas Mustahar yang kemudian diganti menjadi Bendara Raden Mas Antawirya. Pada saat lahir, ayah dari Pangeran Diponegoro masih belum menjabat sebagai sultan. Setelah ayah beliau naik tahta, nama pangeran merubah pagi menjadi Bendara Pangeran Haryo Diponegoro. 

Pangeran Diponegoro merupakan pangeran yang sangat cerdas akan tetapi lebih suka bergaul dengan rakyat. Hal inilah yang membuat beliau menolak posisi sebagai sultan saat ayah beliau menginginkan beliau naik tahta. Beliau beralasan karena memiliki darah selir, beliau merasa tidak pantas untuk menjadi raja. 

Selain menolak permintaan ayahnya untuk naik tahta, Pangeran Diponegoro juga memilih tinggal di daerah yang jauh dari kesultanan yaitu, di Tegalrejo. Di Tegalrejo, Pangeran Diponegoro bukannya melakukan kegiatan politik tetapi malah menyibukkan diri dengan cara berkebun. Akan tetapi dari kesenangannya berkebun inilah yang membuat Pangeran Diponegoro akhirnya memulai perlawanannya. 

Dalam kehidupannya, Pangeran Diponegoro pernah menikah hingga 10 kali. Dari 10 pernikahannya ini, beliau dikaruniai 12 orang putra dan 5 orang putri. Akan tetapi, meski merupakan putra dan putri kerajaan, anak-anak Pangeran Diponegoro tidak duduk manis menikmati jabatan melainkan ada juga yang ikut berjuang dan bahkan meneruskan perjuangan beliau. 

Awal Mula Perlawanan Pangeran Diponegoro

pangeran diponegoro

Gambar Oleh: https://www.tribunnewswiki.com/

Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu penyebab Pangeran Diponegoro memulai perlawanan adalah karena hobinya berkebun dan menanam. Karena memiliki hobi berkebun dan menanam, Pangeran Diponegoro tentu memiliki lahan yang cukup luas. Sayangnya, para antek Belanda yang curang masalah memasang patok di tanah Pangeran Diponegoro yang menyebabkan beliau merasakan kemarahan. 

Akan tetapi selain karena masalah patok ini, Pangeran Diponegoro juga merasa sudah jengah dengan pemerintahan daerah oleh Belanda yang sungguh menyusahkan rakyat kecil. Masyarakat yang sudah miskin karena penjajahan ternyata tetap disuruh membayar pajak yang nilainya mengerikan. Hal inilah yang pada akhirnya makin membakar semangat perjuangan dari Pangeran Diponegoro untuk mengusir penjajah Belanda dari daerahnya. 

Sayangnya, ada cukup banyak pihak yang melakukan pemutarbalikan sejarah dan menyebut Pangeran Diponegoro melakukan pemberontakan karena tidak puas dengan pemerintahan kraton dan juga Belanda yang menolak beliau menjadi seorang sultan. 

Tentang Perang Diponegoro

pangeran diponegoro

Gambar Oleh: https://buguruku.com/

Akhirnya setelah Perang Diponegoro atau disebut juga dengan perang Jawa tumpah. Perang ini kemudian meluas di wilayah Jawa. Pangeran Diponegoro memang memiliki strategi perang yang sangat baik. Dalam perang Pangeran Diponegoro membagi tentaranya menjadi batalion kecil. Batalion kecil ini melakukan perlawanan dengan cara yang rapi yaitu, dengan menggunakan strategi perang gerilya. 

Strategi perang gerilya ini ternyata berhasil menumpahkan banyak kerugian bagi belanda. Perang ini sekaligus menjadi sebuah perang paling besar yang menumpahkan setidaknya 15.000 ribu orang. Pertumpahan darah ini berasal dari 8.000 orang Belanda dan 7.000 dari pihak pasukan Pangeran Diponegoro. 

Menariknya pertumpahan darah yang terjadi karena Perang Diponegoro ini hanya terjadi dalam waktu 5 tahun saja yaitu dari 1825 hingga 1830. Meski terjadi sangat singkat, akan tetapi perang ini berhasil menyebabkan kerugian besar-besaran dari pihak Belanda yaitu, sekitar 25 juta Gulden. 

Kekalahan Pangeran Diponegoro

pangeran diponegoro

Gambar Oleh: https://www.detik.com/

Karena memiliki batalion yang kuat, Pangeran Diponegoro berhasil membuat Belanda panik karena batalion dari Pangeran Diponegoro berhasil membuat kerugian yang besar pada pemerintah Belanda saat ini. Sayangnya dengan rasa takut ini, Belanda kemudian membuat strategi untuk menipu Pangeran Diponegoro. Dengan strategi ini, Pangeran Diponegoro ditangkap dan akhirnya beliau di asingkan dan akhirnya peperangan Jawa juga gagal mengusir Belanda dari Indonesia. 

Pada saat Pangeran Diponegoro diasingkan, di perjalanan ternyata kondisi Pangeran Diponegoro ini sudah tidak baik. Pangeran Diponegoro berada pada kondisi lemah, muntah dan mengalami malaria. Dalam pengasingan ini diketahui bahwa Pangeran Diponegoro memang diperlakukan seperti Napoleon Bonaparte dan diasingkan di Manado. Setelah itu, Pangeran Diponegoro dan keluarganya dipindahkan ke Makassar dan akhirnya beliau meninggal di Makassar. 

Pangeran Diponegoro meninggal pada tanggal 8 Januari 1855. Sementara anak dan istrinya tetap tinggal di Makassar sepeninggalan beliau. Dalam kondisi ini keluarga Pangeran Diponegoro tetap di perlakukan sebagai orang pengasingan dan mendapatkan tunjangan sebanyak 6000 gulden. 

Setelah meninggal Pangeran Diponegoro memang dimakamkan di Makassar, akan tetapi setelah itu, makam beliau kemudian dipindahkan ke pemakaman umum yang ada di Jalan Andalan dan Jalan Irian. Pemakaman Pangeran Diponegoro dipindah beserta dengan pemakaman anak beliau yang meninggal pada saat pengasingan.

Leave a Reply

error: Isi artikel ini dilindungi !!