Nabi Nuh dan Kapal Penyelamat Bagi Diri serta Umatnya

Nabi Nuh merupakan rasul pertama yang dipercaya oleh Allah untuk membimbing umatnya. Menjadi seorang rasul bukanlah perkara yang mudah, hanya manusia yang dibekali kekuatan dan kualitas iman tinggi yang dapat mengemban amanah ini.

Nabi Nuh diberi amanah untuk membawa para umatnya kembali ke jalan Allah. Beliau  memiliki usia panjang yaitu 950 tahun. Sepanjang usianya, beliau tak pernah sekalipun menyerah untuk terus membimbing dan menyampaikan perintah Allah kepada umatnya. Nabi Nuh bahkan dapat melalui azab yang ditimpakan dan selamat bersama mereka yang mau beriman. Yuk, kita baca kisah Nabi Nuh secara lengkapnya bersama!

Kisah Kedatangan Nabi Nuh

nabi nuh

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Berdasarkan sejarah yang ditulis oleh Ibnu Katsir, jarak kehidupan antara Nabi Nuh dan Nabi Adam terpaut sepuluh abad. Nabi Nuh merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam, hal itu berarti setiap keturunan Nabi Adam rata-rata berusia kurang lebih satu abad lamanya. Tidak heran, Nabi Nuh sendiri berusia panjang yaitu 950 tahun.

Nabi Nuh diturunkan di antara manusia yang hidupnya tercela dan menyimpang dari ajaran Allah. Umat ini sebelumnya adalah pengikut Nabi Adam dan Idris. Mereka awalnya taat, menyembah Allah dan selalu mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Nabi Adam dan Nabi Idris. Namun, ada beberapa keturunan dari  kaum nabi sebelumnya yang salah sangka terhadap patung yang dibuat dan menjadi ingkar kepada perintah Allah serta menyembah patung-patung selain kepada Allah.

Awalnya, patung-patung tersebut hanyalah patung yang didedikasikan bagi orang-orang saleh yang hidup pada zaman Nabi Idris. Ketika zaman Nabi Idris, orang-orang tersebut ikut menyebarkan agama Allah. Patung tersebut terdiri dari patung Wadd dan Shuwa. Sayangnya, semakin lama patung-patung ini disembah layaknya Tuhan dan beranggapan bahwa dalam patung orang saleh tersebut terdapat dewa-dewa yang bisa menolong mereka dalam kehidupan.

Saat itu, Nabi Nuh sudah terlahir dan hidup di antara mereka. Nabi Nuh yang belum diangkat menjadi nabi, merasa aneh dengan perilaku masyarakat sekitar menyembah patung yang telah  dibuatnya sendiri.

 

Diangkatnya Nabi Nuh Menjadi Rasul

nabi nuh

Gambar oleh winterseitler dari Pixabay

Nabi Nuh memiliki nama asli Abdul Ghaffar atau Yasykur. Hal ini berdasarkan beberapa hadis yang diriwayatkan oleh ahli sahih. Beliau adalah anak dari Lamik bin Matta yang merupakan keturunan dari Nabi Idris. Dari silsilah tersebut dapat diketahui bahwa Nabi Nuh adalah cucu dari Nabi Idris AS. Kedekatan silsilah tersebut membuat Nabi Nuh yakin terhadap pemikirannya bahwa Nabi Idris yang terkenal cerdas tersebut tidak mungkin mengajarkan hal tercela kepada umatnya apalagi sampai menduakan Allah dengan menyembah patung-patung tersebut.

Nabi Nuh diangkat menjadi Rasul pada usia 480 tahun saat kesesatan umatnya sudah sangat keterlaluan dan tidak dapat ditoleransi lagi. Pada saat itu, wahyu dari Allah pun turun melalui malaikat Jibril yang saat itu berubah wujud menjadi manusia

Malaikat Jibril datang berwujud sebagai seorang pria muda yang sangat tampan hingga membuat Nabi Nuh menghampirinya. Nabi Nuh bertanya kepada pria muda tersebut “Siapakah pria muda yang ada di hadapanku ini?”. Jibril pun menjawab bahwa ia adalah utusan dari Allah yang datang untuk menyampaikan wahyu-Nya.

Allah menyampaikan pesan bahwa umat Nabi Nuh harus segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar sesuai dengan yang telah diajarkan Nabi Idris untuk menyembah Allah semata. Allah mengutus Nabi Nuh supaya kaumnya segera memperbaiki diri dengan mengikuti perintah Allah. Mereka harus segera bertobat sebelum Allah semakin murka dan mengazab mereka dengan pedih. Perintah Allah kepada Nabi Nuh tercantum dalam surat Nuh ayat pertama yang berisi “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), ‘Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.’”

Berdasarkan bunyi ayat tersebut, jika umat Nabi Nuh tidak kembali ke jalan yang benar maka azab yang sangat pedih akan didatangkan. Selain itu, Malaikat Jibril membawa perintah Allah, untuk menyampaikan peringatan kepada raja yang berkuasa pada saat itu, Raja Darmasyil bin Fumail bin Jij bin Qabil bin Adam.

Dilihat dari silsilah namanya, Raja ini adalah keturunan ke-4 dari Nabi Adam. Raja ini merupakan raja yang zalim dan tindakannya tidak sesuai dengan perintah Allah. Di antaranya dengan membuat dan meminum arak, melakukan perjudian, membuat perhiasan emas yang haram untuk digunakan lelaki, kezaliman yang paling utama adalah menyembah lima patung berhala yang bernama Nasr, Siwa, Yaghuts, Wad, dan Ya’uq.

Di sinilah kisah perjalanan Nabi Nuh menyelamatkan umatnya dimulai. Beliau diperintahkan untuk membawa kembali keyakinan pada Allah yang ditinggalkan oleh umatnya. Menghadirkan  kembali keimanan yang sudah ditanamkan oleh nabi-nabi terdahulu yaitu Nabi Adam dan Idris dengan menjatuhkan dan menggulingkan Raja Darmasyil yang zalim pada masa tersebut.

 

Perjalanan Dakwah Nabi Nuh

nabi nuh

Gambar oleh 272447 dari Pixabay

Dakwah Nabi Nuh dimulai sejak kedatangan Malaikat Jibril untuk menghadirkan kembali keimanan para umatnya yang telah sirna sejak lama. Beliau memiliki masa dakwah yang panjang dengan menghabiskan hampir separuh dari usianya di dunia.

Setelah dakwah panjang beliau yang berlangsung selama kurang lebih lima abad, umatnya kebanyakan tidak segera sadar dan mengikuti ajaran dakwah yang beliau sampaikan. Orang yang bersedia mengikuti perintah Nabi Nuh hanya 70 sampai 80 orang saja dalam lima abad yang beliau dedikasikan untuk menyebarkan perintah Allah.

Orang-orang yang menjadi umat Nabi Nuh  memiliki keimanan yang tebal karena dapat bersabar dalam berbagai pelajaran hidup yang dilalui bersama Nabi Nuh. Kebanyakan orang memandang remeh dan mencemooh Nabi Nuh dan umatnya, tidak hanya itu orang-orang tersebut bersikap sangat angkuh dan sombong karena memiliki rezeki yang berlebih dibandingkan Nabi Nuh dan umatnya.

Selain itu, hal tersulit yang dilakukan oleh Nabi Nuh adalah berdakwah pada keluarga beliau  sendiri. Istri dan anak Nabi Nuh tidak mau beriman terhadap perkataan yang telah disampaikan oleh Nabi Nuh, mereka telah terpengaruh oleh kepercayaan masyarakat sekitar. Parahnya, istri dan anak Nabi Nuh menghasut orang lain untuk tidak mempercayai perkataan yang disampaikan oleh beliau.

Kondisi tersebut semakin parah, Nabi Nuh beserta umatnya direndahkan dan diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Berbagai hinaan tersebut datang terus-menerus tanpa henti setiap harinya. Mereka tidak mau mengikuti sama sekali dakwah yang disampaikan oleh Nabi Nuh dan tidak percaya dengan dakwah yang menyebutkan untuk mengikuti perintah Allah dan tidak lagi menyembah patung berhala.

Nabi Nuh sudah mencoba berbagai macam cara hingga akhirnya beliau berpasrah diri kepada Allah karena sudah tidak tahu lagi cara meyakinkan kaumnya agar dapat beriman hanya kepada Allah. Upaya beliau sudah sedemikian keras, sedemikian sabar untuk umatnya tetapi mereka tetap ingkar dan tak bergeming. Hal tersebut akhirnya mendatangkan kemurkaan Allah kepada mereka yang tidak mendengarkan dan mengikuti dakwah dari Nabi Nuh.

 

Nabi Nuh dan Kapal Penyelamat Umatnya

nabi nuh

Gambar oleh loulou Nash dari Pixabay

Dengan berbekal rasa tawakal dan berserah diri pada Allah, Nabi Nuh pun mendapatkan perintah dari Allah untuk membangun sebuah kapal besar beserta petunjuk cara membangunnya. Kapal tersebut harus besar dan kuat karena akan digunakan untuk menampung semua makhluk hidup yang beriman kepada Allah.

Petunjuk dan perintah yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Nuh tersebut, segera dilaksanakan dengan baik. Nabi Nuh membuat kapal dengan bahan kayu jati. Besarnya ukuran kapal tersebut, hingga proses pembuatannya memakan waktu yang cukup panjang yaitu kurang lebih 40 tahun lamanya. Nabi Nuh sedang mempersiapkan bahtera kapal penyelamat yang akan menampung dirinya, umatnya, dan makhluk Allah lainnya.

Baca: Nama 25 Nabi dan Rasul Secara Berurutan

Kaum Nabi Nuh yang tidak mematuhi dakwah beliau, masih menghina dan mencaci Nabi Nuh. Bahkan, mereka menganggap Nabi Nuh sebagai orang gila yang melakukan hal bodoh. Perkataan tersebut keluar karena Nabi Nuh sedang membangun kapal besar di tengah gurun pasir.

Akal pikiran mereka tidak sampai berpikir alasan dan kemungkinan akan adanya sebuah kejadian yang tak terduga dengan membuat kapal semacam itu. Mereka tidak sadar, azab sedang menanti kaum yang tidak menuruti dakwah yang telah disampaikan oleh Nabi Nuh.

Kapal Nabi Nuh pun akhirnya telah selesai dibuat, beberapa sumber menyatakan bahwa besarnya kapal penyelamat Nabi Nuh memiliki panjang 550 meter dan lebar 275 meter. Bahtera ini terbagi menjadi tiga tingkat yaitu lantai bawah untuk hewan-hewan, lantai  kedua untuk para pengikut Nabi Nuh, dan terakhir diatasnya adalah untuk burung-burung.

Desain kapal penyelamat yang dibuat oleh Nabi Nuh sangat unik dan menarik. Pada bagian atasnya ditutupi oleh penutup kayu supaya penumpangnya merasa aman dan nyaman. Dinding kapal yang terbuat dari kayu jati ini sangat kuat agar dapat menahan hempasan banjir.

Dari cerita pembuatan kapal penyelamat tersebut, dapat kita ketahui bahwa azab yang akan diturunkan oleh Allah kepada umat Nabi Nuh yang ingkar dan sombong adalah banjir bandang. Mendengar cerita ini, pengikutnya semakin menghina Nabi Nuh karena hal tersebut tidak mungkin terjadi di tengah gurun yang luas.

Bahtera nabi Nuh adalah simbol ketaatan kepada Allah Swt. Orang-orang yang menganggapnya sebuah kegilaan akan menyesalinya pada kemudian hari. Begitu pula yang tidak percaya dan menghina Nabi Nuh dan umatnya. Mereka yang ingkar terhadap dakwah Nabi Nuh tidak menyadari azab sedang dipersiapkan depan matanya.

 

Datangnya Azab serta Keselamatan Nabi Nuh dan Umatnya

nabi nuh

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Azab yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi mereka yang ingkar kepada Nabi Nuh pun tiba. Nabi Nuh diperintah oleh Allah untuk mengumpulkan semua jenis hewan. Gajah, sapi, kambing, semut, dan semua hewan lainnya berbondong-bondong menuju kapal yang telah dibuat oleh Nabi Nuh.

Setelah semua hewan dan umat Nabi Nuh yang setia dan patuh telah berada dalam kapal. Banjir bandang pun datang. Umat Nabi Nuh yang tidak patuh terhadap dakwah beliau pun tenggelam bersama kesombongan, kezaliman, dan keangkuhan mereka. Bahkan, anak dan istri nabi Nuh pun ikut tenggelam dalam banjir bandang tersebut. Sungguh, ketika Allah telah mendatangkan azabnya, tak ada tempat lagi untuk bersembunyi.

Sementara Nabi Nuh, umatnya yang setia dan patuh, dan hewan-hewan yang ada di dalam kapal telah diselamatkan dari azab yang dikirimkan Allah dan mulai melanjutkan hidup dengan baik sesuai dengan perintah Allah Swt.

Dari kisah Nabi Nuh tersebut, dapat diketahui bahwa kita sebagai manusia haruslah taat pada perintah Allah dan tidak ada lagi yang patut disembah selain Allah. Selain itu, sebagai manusia kita tidak boleh bersikap sombong, angkuh, dan menghina kepada sesama manusia. Kita harus berpegang teguh terhadap pedoman yang dimiliki oleh kita, Al-Qur’an.  Apabila kita dapat melakukan semua hal tersebut dalam kehidupan kita, tentu ketenangan dan kebahagiaan dunia akhirat dapat datang kepada kita. Semangat selalu dalam mengikuti perintah Allah, ya Teman-Teman!

Leave a Reply