Yuk, Pelajari Sikap Nabi Hud Menghadapi Kesombongan Kaum Aad

Nabi Hud merupakan keturunan keempat Nabi Nuh dari anaknya yang bernama Syam, beliau hidup sekitar tahun 2320 – 2450 sebelum masehi dan merupakan salah satu Nabi yang telah dipercaya oleh Allah untuk menghadapi suatu kaum pada masanya. Pada saat itu, beliau diutus untuk memperingatkan kaum Aad yang tinggal di daerah antara Yaman dan Oman yang biasa disebut dengan Al Ahqaaf atau bukit-bukit berpasir. Bagaimana kisah Nabi Hud dalam menghadapi kaum Aad? Yuk, kita simak kisahnya bersama!

Kisah Nabi Hud dan Kaum Aad

nabi hud

Gambar oleh Falkenpost dari Pixabay

Nabi Hud merupakan salah satu keturunan Nabi Nuh yang diberi anugerah oleh Allah untuk menjadi seorang nabi. Beliau adalah salah satu keturunan Nabi Nuh dari garis bapaknya, Abdullah bin Ribah bin Syam bin Nuh. Nabi Hud dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan suku Aad. Suku tersebut berada di daerah Al Ahqaaf tepatnya di antara Yaman dan Oman.

Pada saat itu, apabila seseorang terlahir dalam lingkungan kaum Aad, orang tersebut akan dianggap mendapatkan anugerah atau keberuntungan. Hal itu karenatempat tinggal kaum Aad dikelilingi oleh kekayaan alam yang sangat melimpah. Hasil bumi dan perkebunan di sekitar tempat tinggal mereka sangat banyak sehingga tidak ada satu pun kaum Aad yang tidak memiliki ataupun kehilangan sumber mata pencaharian.

Selain itu, kaum Aad juga merupakan kaum yang sangat pintar dan teliti dalam membuat bangunan tinggi. Rumah-rumah mereka terbuat dari tumpukan pasir.

Berdasarkan gambaran kehidupan Kaum Aad, dapat kita ketahui bahwa kebanyakan dari mereka dapat hidup makmur dan bergelimangan harta. Sayangnya, hal itu tidak disertai dengan rasa syukur kepada Allah. Bahkan mengingat Allah saja tidak, padahal kekayaan alam, kepintaran, dan ketelitiannya berasal dari kehendak dan izin Allah.

Menurut silsilah, kaum Aad merupakan kaum tertua setelah kaum Nabi Nuh. Kaum Aad juga menyembah patung yang mereka ciptakan sendiri. Patung-patung tersebut diberi nama Shamud, Shada, dan Al Haba.

Perilaku mereka sudah sangat menyimpang dari kebenaran, mereka mempercayakan kehidupan pada patung-patung tesebut dengan meminta pertolongan, petunjuk, kebahagiaan, menolak kejahatan, dan musibah dengan menyembahnya. Mereka menjadi lupa diri karena berbagai kenikmatan yang diterimanya selama bertahun-tahun.

Allah ingin menyelamatkan kaum Aad dan menjauhkan mereka dari sifat-sifat ingkar terhadap-Nya. Oleh karena itu, Nabi Hud diangkat menjadi nabi dan diperintahkan oleh Allah untuk mengajak mereka kembali menyembah Allah serta berhenti menyembah patung-patung buatannya sendiri. Namun, ajakan Nabi Hud ini tidak berjalan lancar, mereka sangat keras kepala dan menolak mentah-mentah ajakan Nabi Hud.

Mereka menolak untuk bertobat kepada Allah dan tetap berpegang teguh menyembah patung-patung tersebut sesuai keyakinannya. Mereka percaya bahwa patung-patung tersebutlah yang dapat menolong dan mengabulkan keinginan mereka

Dengan adanya kejadian tersebut tidak membuat Nabi Hud berkecil hati dan menyerah. Meskipun kaum Aad ini cukup keras kepala, beliau tetap terus-menerus mengajak kaum tersebut untuk bertobat dan kembali kepada Allah.

Selain memiliki sifat yang keras kepala, mereka juga sombong, angkuh, dan tinggi hati. Mereka begitu karena merasa telah berhasil mendapatkan berbagai kemudahan dan rezeki yang berlebih sehingga membuat mereka lupa diri.

Nabi Hud terus-menerus mengajak mereka tanpa kenal lelah hingga akhirnya mereka menantang Nabi Hud untuk membuktikan keberadaan Allah dan kebenaran kata-katanya. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Allah dan mendatangkan azab kepada kaum Aad.

Azab pertama yang diturunkan kepada mereka adalah kemarau panjang selama tiga tahun. Kemarau ini menyebabkan hasil pendapatan terbesar mereka yaitu hasil pertanian dan perkebunan menurun drastis.

Selama ini, hasil pertanian dan perkebunan tersebut yang membantu mereka memperoleh hidup yang berkecukupan bahkan berlebih. Sayangnya, azab kemarau panjang tersebut tidak juga membuat kaum Aad berubah untuk memercayai perkataan Nabi Hud, mereka masih saja mengingkari ajakan beliau dan terus menyembah berhala dalam memohon pertolongan.

Nabi Hud menyampaikan bahwa jika mereka bertobat, maka Allah akan mengampuni dan menurunkan hujan yang lebat. Namun, perkataan beliau sama sekali tidak didengarkan oleh kaum Aad, sungguh kaum mereka amat sombong dan keras hati.

Pada akhirnya, Allah benar-benar mengazab kaum Aad dengan mendatangkan angin samun yang memiliki embusan sangat dahsyat dan mematikan. Jangankan manusia, gunung, dan bangunan tertinggi pun akan hancur apabila terkena embusan angin samun.

Datangnya azab ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba menimpa kaum Aad. Kaum ini telah diperingatkan dengan adanya kemarau panjang selama tiga tahun, tetapi mereka tetap ingkar kepada Allah dan tidak mengikuti perkataan Nabi Hud. Angin tersebut berembus dengan panasnya, menghukum kaum Aad yang telah  mengingkari Allah. Sungguh tiada ampunan lagi bagi mereka yang tidak mengindahkan perkataan utusan Allah.

Angin samun yang berembus selama delapan hari tujuh malam tersebut memusnakan kaum Aad. Apabila manusia terkena hembusan angin samun, kulitnya akan langsung terbakar dan melepuh.

Nabi Hud dan para pengikutnya diselamatkan oleh Allah dari azab angin samun, kemudian mereka memulai kehidupan baru di Hadramaut. Mereka hidup dalam ajaran Nabi Hud sampai Nabi Hud dipanggil kembali oleh Allah dalam usianya yang ke-472 tahun. Nabi Hud telah selesai menunaikan tugasnya sebagai utusan Allah dalam menyampaikan perintah-Nya.

Mempelajari Kisah Nabi Hud Menghadapi Kaum Aad

Setelah membaca kisah perjalanan Nabi Hud menghadapi kaum Aad di atas, kita dapat melihat betapa Nabi Hud tidak pantang menyerah, sabar, dan tabah dalam mengajak kaum Aad kembali ke jalan Allah. Ini adalah sesuatu yang harus dipelajari dan diteladani dalam kehidupan. Selain itu, di bawah ini ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari sikap Nabi Hud dalam menghadapi kaum Aad yang wajib kita contoh yaitu:

1. Mendoakan Hal Baik kepada Orang yang Berbuat Jahat kepada Kita

nabi hud

Gambar oleh Pezibear dari Pixabay

Selain memiliki kesabaran dan ketabahan, Nabi Hud juga memiliki kebaikan hati yang luas. Dalam melakukan tugasnya meyakinkan kaum Aad untuk kembali ke jalan Allah, tidak jarang kaum Aad menyakiti hati beliau. Namun, beliau tidak pernah marah kepada orang yang menyakiti hatinya tersebut. Bahkan, Nabi Hud berdoa bagi mereka supaya diberi keselamatan dan hidayah.

2. Selalu Bersyukur

nabi hud

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Nabi Hud terlahir dalam keluarga yang memiliki rezeki berlebih dan sejahtera. Oleh karena itu, Nabi Hud selalu mensyukuri kondisi kehidupannya terlepas dari apa yang telah dilakukan kaumnya.

3. Mengingat Allah

nabi hud

Gambar oleh Roger Sexton dari Pixabay

Apabila kita diberikan kelebihan secara materi dan dapat hidup makmur serta sejahtera ketika berada di dunia, tentunya kita harus mengingat Allah sebagai pemilik alam semesta beserta seluruh isinya. Dengan begitu kita tidak lupa diri dan tetap berada di jalan Allah karena tanpa izin-Nya kita tidak akan dapat melihat sehelai daun yang jatuh dari pepohonan.

4. Tidak Sombong

nabi hud

Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Apa pun yang berhasil kita dapatkan di dunia ini tidak seharusnya membuat diri kita menjadi pribadi yang sombong. Semua hal yang kita miliki di dunia ini milik Allah semata yang kebetulan dipercayakan kepada kita sebagai manusia. Apabila kesombongan sudah menutp mata kita, bukan tidak mungkin Allah akan mengambil kenikmatan itu dalam sekejap mata. Merendah dan berbagilah kepada sekitar kalian agar kita tidak terjerumus ke dalam sifat sombong.

Baca: 25 Nama-Nama Nabi dan Rasul yang Harus Kamu Ketahui

Itulah beberapa pelajaran bagi kehidupan yang dapat kita ambil dari kisah nabi Hud dan kaum Aad. Meskipun telah diberi berbagai rezeki yang melimpah dari Allah, kita sebagai manusia biasa haruslah selalu mengingat Allah. Mudah bagi Allah memberikan kenikmatan pada makhluk-Nya, begitu pula dengan mengambil kembali kenikmatan tersebut dalam waktu yang sangat singkat, terlebih jika makhluk-Nya mengingkari Allah. Yuk, lebih sering mengucap syukur kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah diberi oleh-Nya, bahkan dalam mengarungi pelajaran kehidupan agar kita dapat melaluinya dengan rasa bahagia!

Leave a Reply