Nabi Ilyasa, Sang Penerus Nabi Ilyas

Nabi Ilyasa yang menemani Nabi Ilyas berdakwah merupakan salah satu dari 25 nabi yang kita ketahui namanya. Nabi Ilyasa adalah putra dari Akhtub bin ‘Ajuz dan merupakan keturunan keempat dari Nabi Yusuf. Nabi Ilyasa dipercaya oleh Allah untuk meneruskan tugas Nabi Ilyas dalam menyebarkan ajaran dan perintah Allah. Bagaimana kisah perjuangan beliau dalam menyebarkannya? Mari kita simak kisahnya bersama!

Pertemuan Nabi Ilyasa dengan Nabi Ilyas

nabi ilyasa

Gambar oleh Andreas Riedelmeier dari Pixabay

Nabi Ilyas yang saat itu sedang bersembunyi dari kejaran kaum Bani Israil yang berniat mencelakainya, tidak sengaja bertemu dengan wanita berusia lanjut dalam perjalanan tersebut. Wanita tersebut tidak menyangka dapat bertemu dengan seorang nabi dan kaget mendengar  kaum Bani Israil ingin mencelakai Nabi Ilyas

Tanpa berpikir panjang, wanita tersebut mengajak Nabi Ilyas untuk bersembunyi di rumahnya. Sesampainya di rumah wanita tersebut, beliau mengetahui bahwa dirinya tidak hanya hidup seorang diri, tetapi bersama seorang anak laki-laki yang sedang sakit.

Anak tersebut bernama Ilyasa, pada saat itu Nabi Ilyasa masih sangat belia. Kondisinya sangat memprihatinkan karena penyakit yang ia derita sejak kecil. Penyakit tersebut membuat dirinya hanya bisa tergeletak di tempat tidur.

Segala macam pengobatan sudah dicoba untuk menyembuhkan penyakitnya, tetapi tidak pernah berhasil. Tubuhnya tetap tak berdaya dan sangat lemas karena selalu menahan sakit. Namun, Ilyasa tidak pernah mengeluh karena khawatir ibunya akan sedih.

Nabi Ilyas yang melihatnya terus-menerus kesakitan pun memohon doa kepada Allah untuk menyembuhkan dan mengambil segala penyakit yang dideritanya. Setelah beberapa hari berlalu, tubuh Ilyasa pun akhirnya sehat dan bugar.

Setelah merasa benar-benar sehat, Ilyasa menjadi sahabat sekaligus pengikut Nabi Ilyas yang selalu menemaninya berdakwah ke seluruh pelosok daerah. Alasan utama dirinya ikut berdakwah adalah karena memercayai ajaran Allah. Dirinya telah melihat keajaiban-Nya dengan mata kepala sendiri hanya dalam sekejap mata. Sakit yang diderita bertahun-tahun dapat sembuh hanya dalam beberapa hari saja. Selama mengikuti perjalanan menyebarkan dakwah bersama Nabi Ilyas, keimanan Ilyasa kepada Allah semakin meningkat.

Ilyasa pun menjadi penerus Nabi Ilyas dalam menyebarkan dakwahnya terhadap kaum Bani Israil. Setelah kepergian Nabi Ilyas, para kaum tersebut kembali menyembah padahal mereka telah berjanji tidak akan menyembah berhala. Hal itu menjadi salah satu tugas Nabi Ilyasa untuk membawa mereka kembali ke jalan yang penuh keridaan Allah.

Kisah Ilyasa Menjadi Nabi

nabi ilyasa

Gambar oleh Stephen Cruickshank dari Pixabay

Dalam perjalanan dakwahnya, Nabi Ilyas pernah merasa sedih karena kaum Bani Israil yang kembali menyembah berhala, Ilyasa pun membantu untuk menenangkannya. Hal itu terjadi karena kaum Bani Israil merasa telah terbebas dari kemarau panjang dan merasa tidak perlu lagi menuruti perintah Allah seperti yang disebarkan oleh Nabi Ilyas dan Ilyasa. Pada akhirnya, kaum Bani Israil yang saat itu sedang dipimpin oleh seorang Ratu Izaibil kembali diberikan azab kemarau panjang oleh Allah Swt.

Tak lama setelah kejadian tersebut, Allah mengutus Nabi Ilyas untuk memberi tahu bahwa Ilyasa akan menjadi nabi penerus dakwah menggantikan beliau. Nabi Ilyas pun memberikan jubah yang sedang ia kenakan kepada Ilyasa.

Mendengar perintah Allah yang disampaikan melalui Nabi Ilyas, Ilyasa pun langsung meminta restu kepada orang tuanya dan berqurban sepasang domba untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu, Ilyasa mulai bersiap-siap menjadi nabi yang bertugas membantu Nabi Ilyas dalam berdakwah kepada banyak umat, khususnya kaum Bani Israil.

Saat Nabi Ilyasa telah menjadi nabi, terjadi pergantian raja pada kaum Bani Israil. Tak lama setelah itu, terjadilah perang antara kaum Bani Israil dan kaum Syria. Kaum Syria menyerbu kaum Bani Israil dan menangkap salah satu anak perempuan untuk dijadikan tawanan.

Di Syria, anak perempuan tersebut menjadi hamba seorang istri panglima. Panglima tersebut bernama Naaman dan merupakan kebanggaan bagi Raja Syria, tetapi ia menderita penyakit kulit yang membuatnya tidak nyaman dan kesakitan.

Melihat hal itu, anak perempuan yang menjadi tawanan tersebut merasa kasihan akan penyakit kulit yang diderita oleh Naaman dan tidak membencinya beserta keluarga. Dengan memberanikan diri, ia berbicara kepada istri panglima tersebut bahwa ada seorang nabi dari kaum Bani Israil yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti yang diderita oleh Naaman.

Mendengar hal tersebut, istrinya segera menyampaikan kepada Naaman agar segera menemui nabi tersebut. Naaman yang menjadi panglima bagi kaum Syria itu pun meminta izin kepada rajanya, agar diperbolehkan untuk pergi menemui nabi agar bisa sembuh seperti sedia kala.

Raja pun turut senang ketika mengetahui hal itu dan memperbolehkan Naaman pergi menemui nabi tersebut. Ia pun diperintahkan untuk membawa segala macam bawaan untuk membayar nabi yang akan menyembuhkannya.

Naaman, sang panglima dari kaum Syria itu akhirnya sampai di kediaman Nabi Ilyasa setelah berhari-hari berada dalam perjalanan. Namun sesampainya di sana, Nabi Ilyasa tidak ingin bertemu dengannya. Tanpa menemui Naaman, sang nabi hanya menyuruh pengawalnya untuk menyampaikan kepada Naaman bahwa ia hanya perlu mandi sebanyak tujuh kali di Sungai Yordan, dengan izin Allah ia akan sembuh dari penyakitnya.

Dengan perilaku yang diterimanya dari Nabi Ilyasa, Naaman merasa tersinggung dan memaksa agar dapat bertemu secara langsung dengan Nabi Ilyasa. Tetapi, pengawal Nabi Ilyasa terus-menerus meyakinkannya mengikuti nasihat dari Nabi Ilyasa agar segera sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Setelah Naaman yakin dengan ucapan dari pengawal Nabi Ilyasa, ia akhirnya memutuskan untuk mendengarkan ucapan pengawal tersebut. Naaman mengikuti nasihat Nabi Ilyasa dan bergegas pergi menuju Sungai Yordan untuk mandi sebanyak tujuh kali. Setelah mandi untuk pertama kalinya, Naaman sangat terkejut dengan keadaan yang terjadi pada tubuhnya. Penyakit kulit yang ia derita pada salah satu tangannya sembuh seketika, bahkan kulitnya kembali halus seperti saat remaja.

Setelah mandi sebanyak tujuh kali di Sungai Yordan, penyakit yang selama ini ada pada kulitnya telah benar-benar sembuh. Naaman ingin mengucapkan terima kasih kepada Nabi Ilyasa dan kembali mengunjungi rumahnya. Ia membawa segala bentuk harta yang dimiliki olehnya seperti emas, perak, dan pakaian bagus untuk Nabi Ilyasa. Namun, semua hadiah tersebut ditolak oleh Nabi Ilyasa dan menyuruh Naaman untuk kembali ke negaranya dengan selamat.

Rupanya hal tersebut dilakukan oleh Nabi Ilyasa agar Naaman mengetahui bahwa kesembuhannya berasal dari Allah. Setelah kejadian itu, Naaman menyadari bahwa Allah adalah Maha Penolong bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, Naaman pun mulai mengikuti ajaran Allah yang disebarkan oleh Nabi Ilyasa dan meninggalkan kebiasaannya menyembah berhala. Dengan adanya kesembuhan dari panglima kaum Syria ini, amarah antara  kaum Syria kepada kaum Bani Israil pun mereda, mereka berdamai dan tidak melakukan perang dalam waktu yang cukup lama.

Dakwah Nabi Ilyasa

nabi ilyasa

Gambar oleh Frank Winkler dari Pixabay

Nabi Ilyasa yang melanjutkan perjuangan dalam menyebarkan agama dan perintah Allah kepada kaum Bani Israil. Seperti yang kita ketahui sebelumnya bahwa kaum Bani Israil kembali menyembah berhala dan tidak mematuhi perintah Allah melalui ajaran Nabi Ilyas dan Ilyasa.

Kaum tersebut sama sekali tidak takut dengan azab yang akan diberikan oleh Allah karena kembali menjauh dari segala perintah-Nya. Mereka kembali melakukan dosa-dosa seperti zaman sebelum Nabi Ilyas datang menyampaikan dakwahnya. Namun, Nabi Ilyasa tidak menyerah untuk menyadarkan kaum Bani Israil agar kembali ke jalan yang diridai oleh Allah Swt. Dalam setiap langkahnya ketika berdakwah, Nabi Ilyasa selalu mengingat Allah dan percaya bahwa Allah akan menolongnya melewati berbagai kerikil yang harus beliau lalui dalam berdakwah.

Ia bahkan pernah disebut sebagai tukang sihir oleh kaum Bani Israil karena dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita oleh banyak orang tetapi beliau tidak menghiraukannya dan tetap menyebarkan dakwah tanpa rasa takut. Perjalanan dakwah beliau terus-menerus dilakukan tanpa kenal lelah hingga akhir hayatnya.

Tentara Syria Dikalahkan oleh Nabi Ilyasa

nabi ilyasa

Gambar oleh 272447 dari Pixabay

Perang antara kaum Bani Israil dan kaum Syria terjadi untuk kedua kalinya, tetapi semua rencana dan strategi yang telah disusun oleh Raja Syria berhasil diketahui oleh Nabi Ilyasa. Segala informasi yang diketahui olehnya itu disampaikan langsung kepada sang raja. Setelah mendengar hal tersebut, Raja Bani Israil mulai menyusun strategi perang untuk mengalahkannya, ia juga memperingatkan para rakyatnya untuk meningkatkan kewaspadaan.

Saat perang terjadi, kaum Syria mengalami kekalahan dan tidak berhasil menaklukkan kaum Bani Israil. Raja Syria pun kesal karena strategi perangnya telah gagal untuk mengalahkan kaum Bani Israil dan menganggap salah satu prajuritnya telah berkhianat. Sang prajurit menjawab dengan lantang bahwa hal tersebut terjadi karena Nabi Ilyasa telah mengetahui segala rencana yang diucapkan Raja Syria dan melaporkannya kepada Raja Bani Israil.

Mendengar hal itu, akhirnya sang Raja Syria memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Nabi Ilyasa. Sang Raja Syria mengirim prajurit dari pasukan perang dengan jumlah yang sangat banyak untuk mengepung kediaman Nabi Ilyasa.

Pada keesokan harinya, para pengawal Nabi Ilyasa keluar rumah dan betapa kagetnya mereka melihat banyaknya pasukan prajurit Syria di kediaman tuannya. Pengawal tersebut pun langsung melaporkan keberadaan prajurit perang yang berada di luar kediaman Nabi Ilyasa.

Mendengar hal tersebut, Nabi Ilyasa meyakinkan semua pengawal dan orang-orang yang bekerja di rumahnya agar tidak takut dan berkata prajurit yang menjaga mereka lebih banyak jumlahnya. Pengawalnya merasa heran dengan sikap dan ucapan Nabi Ilyasa yang penuh ketenangan, padahal kediamannya yang telah dikepung oleh prajurit kaum Syria.

Melihat para pengawal dan orang yang bekerja untuknya tak juga tenang, Nabi Ilyasa pun berdoa kepada Allah agar mereka semua dapat melihat hal yang sesungguhnya terjadi. Doa beliau pun terkabul, semua orang yang tinggal di kediaman Nabi Ilyasa dapat melihat gunung yang mengelilingi kota dan pada setiap gunungnya terdapat kuda-kuda berapi yang melindungi Nabi Ilyasa beserta pengawal dan orang-orang yang bekerja untuknya.

Selain itu, Nabi Ilyasa pun berdoa kepada Allah agar prajurit Syria gagal saat menyerang kediamannya. Doa tersebut pun terkabul, ketika para prajurit Syria mengalami kebutaan, Nabi Ilyasa keluar untuk menemui mereka dan mengatakan bahwa mereka tersesat. Sang nabi pun mengantarkan mereka kepada Raja Bani Israil. Sesampainya di sana penglihatan mereka dipulihkan kembali oleh Allah Swt. Mereka terkejut karena telah berada di sana tanpa mengetahui perjalanan yang telah dilalui oleh pasukan prajurit tersebut.

Banyaknya prajurit kaum Syria membuat Raja Bani Israil terkejut, ia pun bertanya kepada Nabi Ilyasa, “Ada apa ini, wahai Nabi Ilyasa? Apakah mereka harus dihukum seberat-beratnya karena bermaksud untuk mencelakai Nabi Ilyasa?” Namun, dengan tegas Nabi Ilyasa menjawab, “Tidak. Namun, buatlah hidangan untuk menjamu para prajurit kaum Syria tersebut.” Dengan adanya kejadian tersebut, kaum Bani Israil dan kaum Syria berhenti berperang.

Pelajaran dari Kisah Nabi Ilyasa

nabi ilyasa

Gambar oleh Pexels dari Pixabay

Berdasarkan kisah dari Nabi Ilyasa, kita dapat mengetahui bahwa dalam menghadapi segala pelajaran dalam kehidupan haruslah menyikapi segala sesuatunya dengan perasaan tenang  agar dapat menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikannya. Selain itu, kita juga dapat melihat sikap Nabi Ilyasa kepada para prajurit Kaum Syria yang berniat mencelakai beliau, para prajurit tersebut diperlakukan dengan baik seperti tamu. Dengan begitu terciptalah kedamaian antarkaum Bani Israil dan Syria. Hal-hal seperti itulah yang harus kita tanamkan sejak dini, ya Teman-Teman! Percayalah jika kita menebarkan kebaikan yang tulus, tentu kebaikan itu akan datang kembali kepada kita dengan cara yang menakjubkan!

Leave a Reply