Nabi Ilyas yang Tetap Bertahan Menghadapi Kemarau Panjang

Begitu banyak kisah nabi yang mengingatkan kita untuk selalu memilih jalan yang penuh kebaikan dan keridaan-Nya. Apabila kita membaca dan menerapkannya dalam kehidupan dengan sungguh-sungguh tentu akan membuat keimanan dan ketakwaan kita meningkat. Hampir dalam setiap kisah nabi, terdapat bukti-bukti dari kekuasaan Allah dalam mengabulkan segala permintaan umat-Nya dengan mudah, tentu dengan menaati perintah Allah Swt.

Namun apabila kita ingkar dan tidak beriman kepada-Nya, Allah dapat menurunkan azab yang pedih. Sebelum azab itu terjadi, terdapat peringatan-peringatan kecil agar kita kembali patuh kepada perintah Allah Swt.

Sudah pernahkah kalian mendengar cerita tentang Nabi Ilyas yang tetap bertahan ketika menghadapi kemarau panjang? Seperti apa, ya kisah nabi kali ini? Yuk, kita cari tahu bersama!

Nabi Ilyas dan Kaum Bani Israil

nabi ilyas

Gambar oleh Frank Winkler dari Pixabay

Nabi Ilyas memiliki ayah yang bernama Yasin bin Fanhas bin Aizar bin Harun. Dengan mengetahui nama ayahnya kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi Ilyas merupakan generasi keempat dari Nabi Harun. Allah mengutusnya untuk memperbaiki akidah dari kaum Bani Israil yang tinggal di kota Baalbek, dataran Lebanon. Tugas yang diberikan kepada beliau adalah berdakwah kepada kaum Bani Israil untuk kembali menyembah Allah dan meninggalkan kebiasaan menyembah berhala, benda mati yang tidak dapat berbuat apa-apa.

Nabi Ilyas dikenal sebagai sosok yang berkahlak baik, saleh, dan sangat taat kepada perintah Allah Swt. Namun, keadaan kaum Bani Israil sangat bertolak belakang dengan perilakunya. Tindakan syirik masih dilakukan oleh kaumnya dengan menyembah berhala yang bernama Baal. Dengan kesungguhan hati, Nabi Ilyas menyeru kepada kaum Bani Israil untuk kembali ke jalan Allah dengan hanya menyembah dan menaati perintah-Nya agar hidup mereka penuh dengan keberkahan dan keselamatan di dunia maupun akhirat.

Namun, ajakan dari Nabi Ilyas tidak disambut dengan baik oleh kaum Bani Israil. Banyak sekali yang menentang ajakannya tersebut, bahkan ada yang marah besar karena menganggap Nabi Ilyas telah menentang tradisi yang sudah dianut secara turun-temurun. Mendengar hal tersebut, beliau tidak membalasnya dengan kemarahan. Beliau justru semakin bersabar dalam menghadapi kaumnya dan tidak menyerah pada keadaan serta mencoba berbagai cara agar dapat membawa mereka kembali ke jalan yang penuh dengan keridaan Allah.

Nabi Ilyas juga mengingatkan kepada kaum Bani Israil, jika mereka tidak juga bertobat dan kembali pada Allah, azab-Nya yang pedih akan datang kepada kaum tersebut. Azab itu berupa musim kemarau yang sangat panjang dan udara panasnya dapat menyiksa.

Dengan adanya kabar tersebut, tidak membuat kaum Bani Israil sadar dengan perbuatan mereka  dan masih tidak memercayai ucapan Nabi Ilyas. Tidak hanya sampai di situ, kaum Bani Israil juga membuat rencana untuk menyingkirkan Nabi Ilyas agar tidak terganggu dengan dakwah yang disampaikannya. Setiap melakukan dakwah, Nabi Ilyas selalu mendapat penolakan dari kaum tersebut. Oleh karena itu, Nabi Ilyas selalu berpindah-pindah tempat agar dapat terhindar dari segala bentuk kejahatan dari Bani Israil.

Pertemuan Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa

nabi ilyas

Gambar oleh Hoang Tung dari Pixabay

Lama kelamaan Nabi Ilyas merasa berada dalam bahaya, akhirnya beliau menjauh dan mencari tempat yang aman dari serangan kaum Bani Israil. Dalam pelariannya, beliau menemukan sebuah rumah. Pemiliknya sangat baik hati, keluarga tersebut menerima kedatangan beliau dengan hati yang ikhlas. Dengan bantuan keluarga tersebut, beliau dapat menghindari ancaman dari kaum Bani Israil dan merasa telah berada di tempat yang aman.

Dalam keluarga tersebut, ternyata ada seorang anak muda yang sedang sakit. Anak muda tersebut bernama Ilyasa,  beliaulah yang selanjutnya akan diutus menjadi Nabi oleh Allah Swt. Nantinya, Ilyasa juga akan ditugaskan untuk membantu Nabi Ilyas dalam berdakwah.

Ilyasa sudah menderita penyakitnya sejak dia masih kecil dan keadaannya cukup parah. Melihat hal tersebut, Nabi Ilyas langsung berdoa kepada Allah agar memberi kesembuhan bagi Ilyasa. Tak lama setelahnya, Ilyasa diberi kesembuhan total dalam waktu singkat, sungguh suatu hal yang tidak mungkin terjadi tanpa adanya izin Allah Swt. Setelah benar-benar pulih dari penyakitnya, Ilyasa menemani Nabi Ilyas ke berbagai tempat untuk berdakwah.

Beliau memutuskan untuk menemani Nabi Ilyas berdakwah karena telah mengetahui bukti nyata dari kebesaran Allah dengan kesembuhan dirinya dari penyakit menahun hanya dalam waktu sekejap saja. Keimanan beliau semakin lama semakin tebal seiring menemani Nabi Ilyas dalam perjalanannya menyebarkan dakwah kepada banyak umat agar semakin beriman kepada Allah.

Azab Kemarau Panjang dari Allah

nabi ilyas

Gambar oleh Roman Grac dari Pixabay

Perjuangan Nabi Ilyas dalam menyebarkan dakwah kepada kaum Bani Israil, belum juga mendapatkan respons baik. Mereka tetap bersikeras untuk mempertahankan budaya yang telah berlangsung lama yaitu menyembah berhala.

Mereka pun tidak takut dengan azab yang akan diberikan oleh Allah apabila mereka tidak juga beriman kepada Allah. Pada akhirnya, Nabi Ilyas pun berdoa dan meminta kepada Allah agar memberikan teguran kepada kaum Bani Israil.

Dalam doanya beliau meminta kepada Allah agar tidak menurunkan hujan ke daerah yang ditinggali kaum Bani Israil. Doa tersebut dikabulkan oleh Allah dan dalam waktu tiga tahun, hujan tidak pernah datang. Hal itu membuat semua daerah mengalami kekeringan yang sangat parah sehingga tumbuhan dan hewan ternak mati karena kekurangan air.

Kaum Bani Israil pun mengeluhkan hal tersebut, mereka kehilangan salah satu mata pencahariannya karena banyaknya hewan ternak yang mati. Selain itu, banyak kaum mereka yang mati kelaparan dan kehausan. Kelaparan yang terjadi karena mereka tidak memiliki penghasilan untuk membeli makanan. Mereka mulai merasakan penderitaan yang disebabkan kemarau panjang.

Kemarau panjang tersebut belum juga menampakkan tanda-tanda akan berakhir, mereka mulai takut kemarau ini akan terjadi lebih lama dan akan menyebabkan lebih banyak korban berjatuhan.

Beberapa tokoh kaum Bani Israil pun berkumpul untuk bermusyawarah dan membicarakan tindakan untuk mengantisipasi jatuhnya korban yang lebih banyak. Mereka mencoba mencari cara untuk mengatasinya, tetapi setelah membicarakan berbagai kemungkinan agar kemarau tersebut berhenti, tidak ada satu pun dari mereka menemukan solusi yang tepat.

Akhirnya, salah satu dari mereka menyadari bahwa kekeringan yang terjadi karena kemarau panjang ada hubungannya dengan perkataan Nabi Ilyas. Ini merupakan azab yang diturunkan Allah karena mereka tidak beriman kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya.

Sebagian dari kaum Bani Israil menyetujui perkataan tersebut dan sepakat untuk mencari keberadaan Nabi Ilyas. Mereka semua berpencar untuk mencari Nabi Ilyas dan berharap beliau dapat memberikan bantuan agar kemarau panjang ini dapat segera berakhir. Mereka sudah tidak kuat menahan penderitaan yang diakibatkan oleh kemarau panjang tersebut.

Setelah melakukan pencarian yang cukup lama, akhirnya mereka menemukan Nabi Ilyas ketika sedang berdakwah di suatu wilayah. Saat itu, Nabi Ilyas sudah ditemani oleh Ilyasa untuk menyampaikan dakwah ke banyak orang. Setelah menemukannya, kaum Bani Israil mulai menceritakan keadaan wilayah mereka yang sedang dilanda kemarau panjang.

Mereka meminta pertolongan kepada Nabi Ilyas karena sudah tidak mengetahui bagaimana cara menghentikan kemarau yang menyebabkan kekeringan tersebut agar segera selesai. Selain itu, mereka berjanji akan beriman kepada Allah dan menjalankan semua perintah-Nya serta tidak akan lagi menyembah berhala yang menjerumuskan mereka ke dalam kemusyrikan. Tidak hanya itu, mereka pun berjanji akan segera menghancurkan semua berhala yang mereka sembah selama ini.

Mendengar hal tersebut, hati Nabi Ilyas dan Ilyasa pun tergerak untuk menyelamatkan kaum Bani Israil. Rasa kasihan dan ingin menolong yang lebih besar membuat Nabi Ilyas tidak tega melihat mereka berada dalam kesulitan dengan kurun waktu yang lebih lama lagi.

Akhirnya, pada saat itu juga Nabi Ilyas dan Ilyasa kembali datang ke wilayah tempat tinggal kaum Bani Israil. Sesampainya di sana, mereka berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar kembali menurunkan hujan di daerah tersebut. Tidak lama berselang setelah berdoa, keinginan mereka pun dikabulkan, hujan mulai turun membasahi daerah yang telah mengalami kemarau panjang.

Dengan datangnya hujan tersebut banyak tanaman yang mulai tumbuh, sehingga hewan dapat minum kembali dan mencari makan di rerumputan seperti biasa. Masyarakat kaum Bani Israil pun tercukupi kebutuhan airnya seperti sedia kala. Akhirnya, mereka dapat hidup makmur, sejahtera, dan berkecukupan seperti sedia kala.

Nabi Ilyas Masih Hidup

nabi ilyas

Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Pada suatu saat, Nabi Ilyas dan Ilyasa berjalan ke arah timur dari sungai Yordan. Di tengah perjalanan, terjadi angin topan yang sangat besar. Mereka pun mencari tempat perlindungan untuk menyelamatkan diri. Setelah angin topan itu mereda, Malaikat Izrail mendatangi Nabi Ilyas untuk mengabarkan bahwa ini adalah waktu beliau meninggal dunia. Mendengar hal tersebut, Nabi Ilyas sangat kaget dan merasa belum siap karena merasa amalnya masih sangat kurang.

Nabi Ilyas pun mulai menangis, tangisan beliau bukan karena takut pada kematian yang akan datang padanya, melainkan sangat sedih karena tidak bisa lagi berzikir kepada Allah apabila ajalnya telah datang. Mendengar ucapan Nabi Ilyas tersebut, akhirnya Allah membatalkan tugas Malaikat Izrail mencabut nyawa Nabi Ilyas dan menempatkan Nabi Ilyas di taman yang sangat indah agar dapat terus-menerus berzikir kepada Allah.

Allah memberi kesempatan yang sangat langka ini kepada Nabi Ilyas agar dapat berzikir kepada-Nya seperti yang beliau inginkan hingga kiamat kelak. Menurut riwayat yang dipercayai, secara fisik Nabi Ilyas dijadikan gaib atas izin Allah. Hal tersebut membuat beliau tidak dapat terlihat oleh manusia meskipun belum meninggal.

Sungguh, Allah dapat mengabulkan segala permintaan hamba-Nya, terlebih jika permintaan tersebut berdampak kebaikan bagi kehidupan dirinya. Allah amat sangat mencintai dan menyayangi hamba-Nya yang patuh dan menyebarkan kebaikan di muka bumi ini. Namun, Allah juga tak segan memberi azab bagi para hamba-Nya yang terus-menerus ingkar dan tidak beriman kepada-Nya.

Hikmah dari Kisah Nabi Ilyas

nabi ilyas

Gambar oleh nextvoyage dari Pixabay

Berdasarkan cerita antara kisah Nabi Ilyas dan kaum Bani Israil, kita dapat mengetahui bahwa jika Allah sudah berkehendak semua pasti akan terjadi tanpa terkecuali. Dengan menjadi manusia yang penuh dengan rasa percaya pada Allah, menaati perintah-Nya, dan selalu bersyukur terhadap ketentuan yang telah ditetapkan-Nya akan membawa kebahagiaan dunia akhirat bagi kita. Bahkan Allah akan segera mengabulkan permintaan kita dalam sekejap saja jika sudah berkehendak.

Oleh karena itu, jadikanlah Allah sebagai satu-satunya tempat kita meminta dan memohon pertolongan dalam setiap langkah kehidupan kita. Dengan begitu, atas izin Allah, kita akan memperoleh kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup. Jangan lupa untuk selalu bersyukur dan tetap mengerjakan segala amalan setelah mendapatkan hal yang kita inginkan, ya Teman-Teman!

Leave a Reply