Inilah Kisah Nabi Harun, Tetap Berpikir Tenang Meghadapi Orang yang Salah Paham pada Beliau

Nabi Harun merupakan partner Nabi Musa dalam menyebarkan ajaran Allah Swt. Beliau ditugaskan Allah bersama Nabi Musa untuk berdakwah dan mengajak kaum Bani Israil dan Raja Fir’aun kembali pada perintah-Nya. Cara beliau dalam mengajak Bani Israil pun begitu mengagumkan. Dengan penuh kesabaran dan ketenangan hati ketika menghadapi sifat keras hati yang ditunjukkan oleh kaum Bani Israil dan Raja Fir’aun. Bahkan, beliau mampu menahan diri saat Nabi Musa salah paham terhadapnya. Yuk, bersama-sama membaca kisah Nabi Harun dalam menghadapi kesalahpahaman di bawah ini!

Kelahiran dan Nasab Nabi Harun

1. Lahirnya Nabi Harun

nabi harun

Gambar oleh Jean Louis Tosque dari Pixabay

Orang tua Nabi Harun masih memiliki silsilah dari nabi-nabi sebelumnya, keduanya masih berkaitan dengan Nabi Yaqub. Ayah beliau bernama Imran bin Qahits bin Lewi bin Yaqub. Sementara sang ibu, Yukabid juga masih memiliki garis keturunan dari Lewi bin Yaqub.

Meskipun kelahiran Nabi Harun terjadi pada masa Raja Fir’aun, beliau masih dirawat oleh keluarganya sendiri karena beliau dilahirkan saat Raja Fir’aun dinasihati oleh pejabatnya apabila semua anak laki-laki dilenyapkan tidak akan ada lagi orang yang bekerja untuk mereka kelak.

Nabi Harun sendiri merupakan kakak Nabi Musa, namun pada saat Nabi Musa lahir, Raja Fir’aun kembali memberlakukan peraturannya untuk melenyapkan anak lelaki. Dengan terpaksa, ibunya meghanyutkannya ke sungai untuk menyelamatkan Nabi Musa. Berkat pertolongan Allah, Nabi Musa ditemukan istri Raja Fir’aun dan dibesarkan oleh keluarga mereka.

2. Nasab Nabi Harun

nabi harun

Gambar oleh StockSnap dari Pixabay

Nasab merupakan garis keturunan dari pihak bapak, apabila menelusuri lebih jauh Nabi Harun merupakan keturunan dari Nabi Ibrahim, lalu kepada Nabi Ishaq, dan Nabi Yaqub. Seperti itulah silsilah keluarga beliau sehingga masih menjadi keturunan kaum Bani Israil.

Imran dan Yukabid memiliki tiga anak, Nabi Harun merupakan anak kedua mereka. Anak pertama bernama Maryam dan Nabi Musa merupakan anak terakhir sekaligus adik dari Nabi Harun.

Keluarga Nabi Yaqub termasuk generasi awal dari kaum Bani Israil yang tinggal di kota Mesir. Sejak dahulu kaum Bani Israil mulai bercocok tanam dan berternak di sana, Nabi Harun pun masih menetap di kota tersebut besama dengan kakak dan orang tuanya. Beliau berdakwah bersama Nabi Musa di negeri piramida tersebut.

Sesungguhnya kota Mesir memiliki suasana damai, tetapi berubah menjadi menakutkan karena Raja Fir’aun menjabat dan mengubah peraturan yang membuat rakyatnya sengsara, ketakutan, dan merasa tidak aman.

Dia tidak segan membuat rakyatnya bekerja paksa siang malam tanpa istirahat yang cukup dan mengalami hukuman pedih yang tidak seharusnya diterima mereka. Dengan adanya peristiwa tersebut, Allah mengutus Nabi Harun dan Musa untuk berdakwah di tempat tersebut.

Pengangkatan Nabi Harun Menjadi Nabi

nabi harun

Gambar oleh Christoph Schütz dari Pixabay

Kenabian Nabi Harun dimulai ketika Nabi Musa kembali ke Mesir. Pada saat itu,Nabi Musa memanjatkan doa kepada Allah meminta supaya saudaranya menemani dirinya dalam berdakwah. Beliau menyadari bahwa caranya berkomunikasi kurang bagus.

Nabi Musa tidak begitu fasih dalam berkomunikasi karena dirinya telah meninggalkan Mesir selama belasan tahun, sehingga logat bahasanya berbeda dan bahkan ada riwayat yang menyebutkan dirinya tidak dapat berbahasa Mesir sama sekali. Oleh karena itu, dirinya membutuhkan Nabi Harun yang telah lama tinggal di Mesir agar dakwahnya tersampaikan dengan baik kepada kaum Bani Israil dan Raja Fir’aun beserta para pengikutnya.

Allah pun mengabulkan permintaan Nabi Musa, Nabi Harun menjadi partnernya dalam berdakwah  menyampaikan ajaran Allah Swt. Nabi Harun memang terkenal pandai dalam berbicara kepada orang banyak. Beliau sangat ahli mengolah dan menyusun kata untuk disampaikan sehingga para pendengarnya pun dapat memahaminya dengan baik. Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Qasas ayat 34:

“Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh aku takut mereka akan mendustakanku.”

Mereka pun bersama-sama memperkenalkan ajaran Allah kepada Raja Fir’aun dan kaum Bani Israil. Pada saat itu, Raja Fir’aun menganggap dirinya sebagai Tuhan semesta alam, hal itu terjadi karena dia tidak pernah sakit dan orang paling kaya di Mesir.

Selain itu, Nabi Harun dan Musa juga ingin membebaskan kaum Bani Israil dari kekejaman Raja Fir’aun. Mereka pun mendatangi Raja Fir’aun untuk memberitahukan dirinya bukanlah Tuhan dan memintanya berhenti membuat rakyatnya hidup dalam kesulitan.

Namun sesampainya mereka di kerajaan Raja Fir’aun, sang raja dengan sombongnya menolak memercayai omongan mereka. Bahkan dia mengolok-olok cara berbicara Nabi Musa.

Raja Fir’aun menantang Nabi Harun dan Musa untuk membuktikan kebesaran Allah. Dia mulai mengumpulkan para penyihirnya untuk melawan Nabi Musa. Sebelum melakukan pelawanan kepada Raja Fir’aun, Nabi Musa berdoa pada Allah untuk membantunya membuktikan keberadaan Allah Swt.

Para penyihir melemparkan sebuah benda yang berubah menjadi ular kepada Nabi Musa, lalu pada saat yang sama turunlah perintah Allah kepada Nabi Musa untuk melempar tongkatnya. Dalam sekejap tongkat beliau berubah menjadi ular besar yang dapat memakan ular-ular milik penyihir tersebut.

Setelah itu, Nabi Musa mengulurkan tangannya ke arah ular tersebut dan perlahan ular tesebut berubah kembali menjadi tongkat. Para penyihir pun melihat telapak tangan beliau bercahaya, melihat hal tersebut mereka takjub dan percaya dengan keberadaan Allah Swt.

Sementara, Raja Fir’aun masih tidak mengakui keberadaan Allah. Melihat para penyihir yang mulai mempercayai keberadaan Allah, dia mulai menawarkan harta kekayaan pada mereka agar kembali percaya bahwa dirinya adalah Tuhan dan menuruti perintahnya. Namun, mereka tidak terpengaruh dan menolak tawaran tersebut. Mereka sudah percaya dengan bukti yang diperlihatkan oleh Nabi Harun dan Musa tentang keberadaan Allah Swt.

Kaum Bani Israil mulai mengikuti ajaran Allah, mereka yang sudah beriman diajak oleh Nabi Harun dan Musa untuk berhijrah ke kota lain agar terlepas dari ketidakadilan yang dilakukan oleh Raja Fir’aun. Mengetahui hal tersebut, Raja Fir’aun pun murka. Dia dan para pengikutnya bergegas untuk menghalangi kedua nabi tersebut.

Sesampainya di pinggir laut, Nabi Harun dan Musa tidak dapat melewati laut tersebut. Seketika datang perintah Allah kepada Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut. Dengan izin Allah, laut tersebut terbelah menjadi dua sehingga Nabi Harun, Nabi Musa, dan para pengikutnya yang telah beriman kepada-Nya dapat menyeberangi lautan tersebut dengan selamat. Sementara itu, Raja Fir’aun dan para pengikutnya hanyut ditelan air laut.

Salah Paham Nabi Musa Terhadap Nabi Harun

Setelah bebas dari kezaliman Raja Fir’aun, kaum Bani Israil yang berjumlah kurang lebih tujuh puluh orang melanjutkan hidupnya dengan damai. Mereka sangat bahagia atas keberkahan dan keselamatan yang diperoleh dalam hidupnya tersebut. Nabi Harun dan Musa pun turut merasakan hal itu. Mereka terus-menerus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah.

Nabi Harun dan Musa melanjutkan dakwahnya kepada umatnya tersebut, keduanya menekankan aqidah dalam setiap dakwahnya. Selama menjalankan dakwah, mereka dan pengikutnya masih berpindah-pindah. Di pertengahan jalan, mereka singgah sejenak di Padang Tiih, tiba-tiba saja Allah pun memerintahkan Nabi Musa ke Bukit Thursina.

Nabi Musa berbicara kepada umatnya akan pergi selama tiga puluh hari. Di Bukit Thursina, dia akan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan puasa. Selama kepergiannya, Nabi Musa mengamanahkan Nabi Harun untuk menggantikan dirinya sebagai pemimpin kaum Bani Israil selama dirinya pergi.

Tugas pertama yang harus dilakukan oleh Nabi Harun adalah meminta umatnya untuk membuang barang bawaannya, karena benda tersebut bukan milik kaum Bani Israil. Barang-barang yang mereka bawa adalah barang yang dipinjamkan oleh Raja Fir’aun. Nabi Harun pun membuat lubang untuk membuang barang-barang tersebut dan membakarnya.

Salah satu pengikut Nabi Harun dan Musa bernama Samiri. Sebenarnya, dia bukan berasal dari kaum Bani Israil dan  penyembah berhala sapi. Dahulu, dia merupakan tetangga kaum Bani Israil, sehingga dia turut bergabung dalam perjalanan Nabi Harun dan Musa. Dia masih menyimpan tanah yang berasal dari tempat tinggalnya itu.

Nabi Harun yang melihat hal tersebut, menegur Samiri untuk membuangnya. Namun Samiri tidak menghiraukannya, dia bahkan meminta kepada Nabi Harun untuk mengubah tanah tersebut menjadi anak sapi emas.  Nabi Harun pun berdoa kepada Allah dan tanah itu berubah menjadi anak sapi emas sesuai keinginan Samiri.

Nabi Musa yang belum juga kembali dari Bukit Thursina, mulai membuat kaum Bani Israil gelisah. Ternyata, Nabi Musa menyepi di Bukit Thursina selama empat puluh hari atas perintah Allah. Kondisi tersebut, dimanfaatkan oleh Samiri untuk menghasut kaum Bani Israil menyembah berhala sapi. Kaum Bani Israil terbujuk ajakan Samiri, mereka mulai menyembah berhala dan meninggalkan ajaran Allah.

Nabi Harun terus-menerus mengingatkan mereka untuk kembali ke jalan Allah. Namun, mereka sama sekali tidak mendengar perintah beliau. Pada dasarnya, sifat kaum Bani Israil adalah keras kepala sehingga tidak mengikuti perintah-Nya melalui Nabi Harun.

Nabi Harun tetap sabar dan tidak menyerah untuk membawa kaum Bani Israil kembali ke jalan Allah. Beliau berkata, “Allah sudah begitu banyak memberi kalian kenikmatan, mengapa kalian dengan mudahnya mengkhianati Allah dan Nabi-Nya?”

Baca: perbedaan nabi dan rasul

Akhirnya, Nabi Musa kembali dari Bukit Thursina, beliau melihat kaumnya sedang menyembah berhala itu. Melihat hal itu, Nabi Musa sangat marah kepada Nabi Harun. Beliau berpikir Nabi Harun yang membiarkan kaum Bani Israil menyembah berhala sapi tersebut.

Berbeda dengan adiknya, Nabi Harun dengan sangat tenang menghadapi sikap adiknya. Beliau pun menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi setelah emosi Nabi Musa mulai stabil. Beliau menyebutkan Samiri merupakan provokator dari asal mula terjadinya penyembahan berhala sapi tersebut.

Mendengar hal itu, Nabi Musa menghancurkan berhala sapi dan Allah memberi tahu kepadanya bahwa semua yang dikatakan oleh Nabi Harun adalah benar dan dirinya sudah berusaha sekuat tenaga menasihati kaum Bani Israil, tetapi tidak ada hasilnya.

Mendengar hal tersebut, Nabi Musa pun merasa lega karena kakaknya tidak terpengaruh dalam kemusyrikan dan tetap patuh terhadap Allah. Akhirnya, Nabi Musa menyadari kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah. Beliau juga meminta maaf kepada kakaknya, Nabi Harun dan menyadari Nabi Harun sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Akhirnya, beliau meminta Samiri untuk pergi dari kaumnya, Nabi Harun dan Musa mengajak kaum Bani Israil untuk kembali ke jalan yang lurus serta menegaskan bahwa hanya Allah yang harus mereka sembah, bukan benda mati.

Menyembah berhala merupakan perbuatan syirik dan dosa besar. Setelah berulang kali ditegaskan, mereka pun menyadari perbuatannya dan memohon ampunan serta rahmat kepada Allah Swt.

Suasana kaum Bani Israil pun kembali tenang, Nabi Harun dan Musa meminta mereka untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar yang artinya menegakkan yang benar dan menjauhi hal yang salah. Hal itu pun ditegaskan dalam surat Luqman ayat 17 yang berisi:

“Wahai Anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah manusia berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”

Hikmah Kisah Nabi Harun

nabi harun

Gambar oleh Peter H dari Pixabay

Dari kisah Nabi Harun tersebut kita dapat mengambil pelajaran untuk mengatur emosi dalam menghadapi segala macam bentuk sifat manusia yang kita temui sehari-hari. Terlebih pada zaman sekarang, manusia-manusia mudah tersulut emosi karena terprovokasi oleh seseorang padahal belum diketahui dengan pasti kebenarannya. Penting bagi kita untuk berpikir secara jernih dan tenang agar dapat berkomunikasi dengan baik terhadap lawan bicara kita.

Selain itu, kita juga dapat mempelajari bagaimana menyikapi orang yang keras kepala. Dengan bersabar dan terus-menerus berdoa, bukannya memaksakan kehendak pada saat itu juga sehingga memberi jeda untuk membuat orang tersebut berpikir dengan baik. Jangan lupa untuk selalu berpikir tenang dalam menyelesaikan masalah, ya Teman-Teman! Tenang saja, apabila kita sudah memberi yang terbaik, semua akan berjalan dengan baik jika Allah sudah mengizinkannya. Semangat selalu, ya!

Leave a Reply