Yuk, Mempelajari Hikmah Sabar dari Kisah Nabi Ayub!

Manusia tercipta untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Kehidupan di dunia ini, tidak ada yang abadi begitu pula dengan nikmat dan pelajaran hidup yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia-Nya. Begitu besar rasa cinta Allah kepada setiap makhluk-Nya dalam memberikan hikmah pada setiap pelajaran hidup yang diterimanya, sementara kita terkadang tidak paham dengan nikmat yang akan datang setelahnya. Bahkan tidak jarang, kita sebagai manusia malah mengeluh dengan keadaan tidak menyenangkan yang kita terima.

Padahal, ketika Allah memberikan kita pelajaran hidup adalah pertanda bahwa Dia ingin makhluk-Nya lebih mendekatkan diri kepada-Nya, terutama dalam salat pada sepertiga malam.

Kita sebagai manusia dalam menghadapi pelajaran dan kenikmatan dalam hidup sama-sama membutuhkan kesabaran dalam menyikapinya. Hal itu karena, kebanyakan manusia akan lupa bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah kepadanya.

Tahukah kalian, jika bersabar merupakan cara tercepat untuk mendapatkan kebahagiaan? Seperti yang dapat kita pelajari dari kisah Nabi Ayub selalu sabar dalam menghadapi berbagai pelajaran hidup. Seperti apa kisahnya? Yuk, kita simak bersama!

Pelajaran Hidup yang Dialami oleh Nabi Ayub

nabi ayub

Gambar oleh Helmut Stirnweis dari Pixabay

Nabi Ayub merupakan putra dari Aishu yang merupakan saudara kembar dari Nabi Yaqub. Oleh karena itu, beliau pun merupakan sepupu dari Nabi Yusuf. Beliau merupakan salah satu utusan Allah yang sangat saleh dan memiliki akhlak terpuji serta sabar dalam menghadapi berbagai pelajaran hidup yang datang kepadanya selama puluhan tahun.

Nabi Ayub terkenal akan kekayaannya yang melimpah seperti memiliki perkebunan, pertanian, peternakan yang tak terhitung jumlah nilainya. Segala macam bentuk kenikmatan dunia telah lengkap beliau miliki.

Namun, kekayaan yang beliau miliki tidak membuatnya kikir dan sombong. Justru Nabi Ayub mengetahui dengan baik bahwa kekayaan yang beliau miliki merupakan titipan dari Allah dan beliau hanya perantara untuk dapat berbagi rezeki. Bagi dirinya, harta yang dimiliki merupakan hak dari penduduk yang kurang mampu.

Nabi Ayub tidak hidup secara berlebihan dengan kekayaan yang beliau miliki. Beliau berusaha hidup sesederhana mungkin dan memberikan yang terbaik dalam beribadah kepada Allah dengan tekun beribadah dan selalu membantu orang yang tengah mengalami kesulitan terlebih orang-orang fakir miskin dan anak yatim.

Dengan kedermawaannya tersebut, Nabi Ayub dijadikan panutan oleh para kaumnya. Beliau paham akan nikmat yang Allah titipkan ini merupakan bentuk cobaan tentang sikap yang akan beliau berikan ketika menerimanya. Hal yang beliau lakukan adalah terus-menerus bersyukur atas segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya. Bahkan ketika ada kesulitan datang dalam hidupnya, Nabi Ayub tidak mengeluh sama sekali. Beliau justru mengucapkan syukur kepada Allah tanpa henti.

Melihat ketabahan dan kesabaran sikap Nabi Ayub dalam menghadapi segala kesulitan, iblis pun iri melihatnya. Iblis meminta izin kepada Allah untuk menggoda dan menguji sedalam apa sifat tersebut dimiliki oleh Nabi Ayub.  Allah mengizinkan iblis untuk melakukan hal tersebut sebab Allah Maha Mengetahui apa yang akan dilakukan oleh makhluk-Nya. Allah ingin menunjukkan kepada iblis bahwa Nabi Ayub tidak akan pernah mengeluh dan melupakan Allah walaupun hal yang beliau temui sangat sulit. Dengan begitu, iblis akan malu dengan segala hal yang dilakukan untuk menghancurkan kehidupan Nabi Ayub.

Ujian pertama untuk Nabi Ayub yaitu seluruh harta kekayaan beliau diambil dari kehidupannya. Semua hartanya lenyap atas kehendak Allah, Nabi Ayub pun jatuh miskin, semua hewan peliharaan mati dan beliau mengalami kebangkrutan. Sungguh tak dapat disangka harta yang tadinya berlimpah dan tak terhitung jumlahnya itu habis dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, dengan adanya kejadian tersebut Nabi Ayub sama sekali tidak mengeluh sedikit pun. Beliau merasa segala sesuatu yang ada padanya merupakan milik Allah dan sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Selain itu, beliau merasa lega telah mendapatkan keringanan untuk tidak menafkahi anak yatim karena beliau merasa sangat berdosa apabila lalai dalam memberi haknya untuk mereka.

Setelah kejadian itu, iblis memohon kepada Allah untuk memberikan Nabi Ayub memberinya cobaan kembali, iblis tetap belum percaya akan kesabaran yang dimiliki oleh beliau. Iblis ingin Nabi Ayub menyalahkan Allah dan tidak beriman kepada-Nya.

Allah pun mengabulkan permintaan para iblis dengan membuat semua anak-anak Nabi Ayub AS meninggal. Beliau pun menyaksikan sendiri anaknya yang tiap hari menderita sakit dan akhirnya meninggal. Hal tersebut, terjadi berulang-ulang sampai semua anak beliau meninggal. Betapa berat ujian yang dialami Nabi Ayub, menghadapi cobaan yang terjadi berturut-turut.

Namun,  Nabi Ayub tidak pernah sekalipun meratapi kepergian anaknya. Beliau berpikir bahwa anak merupakan titipan dari Allah yang diberikan kepadanya, oleh karena itu beliau pun rida jika anaknya diambil kembali oleh-Nya. Beliau menganggap bahwa cobaan tersebut diberikan Allah kepadanya untuk mengangkat derajatnya menjadi lebih baik.

Baca: lagu nama nama nabi

Dengan banyaknya cobaan yang datang pada beliau, Nabi Ayub tidak pernah meninggalkan ibadahnya kepada Allah. Keimanan beliau semakin meningkat hari demi hari. Alangkah tabahnya beliau menerima segala ujian dalam kehidupannya.

Belum sembuh pilu yang dialami Nabi Ayub akan kematian anak-anaknya. Iblis belum puas juga melihat segala cobaan yang telah diterima Nabi Ayub, iblis meminta kepada Allah agar mengirimkan cobaan lagi berupa penyakit, ujian yang beliau terima kali ini merupakan penyakit kulit berbahaya. Penyakit tersebut membuat dirinya hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Meskipun beliau sakit, namun beliau dapat menerimanya dengan ikhlas dan sabar dalam menghadapinya. Melihat hal tersebut iblis semakin iri dan dengki kepada Nabi Ayub, iblis sudah mencoba berbagai cara untuk membuatnya marah pada Allah, sementara hal yang terjadi justru hal sebaliknya Nabi Ayub tetap istiqamah dalam beribadah.

Semua sahabat beliau mulai menjauhinya karena bencana yang terus-menerus menimpa Nabi Ayub. Para sahabatnya beranggapan bahwa jika mereka tetap berada dekat Nabi Ayub, mereka akan terkena kesialan dan semua usahanya akan bangkrut. Meskipun beliau ditinggalkan oleh para sahabatnya, beliau tidak pernah sakit hati. Beliau yakin, jika sudah waktunya dirinya akan diberi kesembuhan oleh Allah.

Nabi Ayub dan istrinya mulai dikucilkan oleh masyarakat sekitar karena penyakit yang beliau derita. Mereka seakan lupa akan kedermawanan yang telah diberikan oleh Nabi Ayub dahulu kala. Dengan adanya kejadian tersebut, beliau tetap sabar menghadapi segala pengasingan yang dilakukan oleh para masyarakat.

Harta yang ada telah habis dan Nabi Ayub tidak dapat menafkahi kehidupannya dan sang istri. Peran beliau sebagai kepala keluarga telah digantikan oleh sang istri, tetapi kini istrinya telah dipecat dari tempat kerjanya. Hal itu terjadi karena pemilik tempat kerja tersebut takut tertular penyakit yang diderita oleh suaminya. Ketika kembali melamar pekerjaan pun banyak yang menolaknya. Akhirnya dengan rasa yang tulus dan ikhlas, sang istri menjual rambutnya untuk dapat menyambung kehidupan.

Nabi Ayub tetap sabar dan terus-menerus berdoa walaupun doanya tak kunjung dikabulkan Allah. Beliau tak putus asa dan tetap mendekatkan diri dengan sepenuh hati kepada Allah sang pemberi kesembuhan.

Iblis pun semakin murka karena berkali-kali gagal menggoda Nabi Ayub, akhirnya sang iblis memutuskan untuk menggoda istri nabi. Iblis menggoda istri Nabi Ayub untuk meninggalkan oleh suaminya yang sudah sakit-sakitan dan tidak bisa lagi memberi nafkah kepadanya. Alhasil, sang istri tergoda rayuan sang iblis karena terus-menerus dibisiki dan meninggalkan Nabi Ayub dalam keadaan sakit parah.

Sungguh menyakitkan hal yang dialami Nabi Ayub, mulai dari harta benda, anak-anak, sahabat, hingga istrinya. Setelah kejadian itu, Nabi Ayub bernazar akan menghukum istrinya karena telah melanggar perintah dari suaminya agar tidak pergi.

Nabi Ayub tetap tabah karena beliau mengetahui bahwa iblis yang menginginkan Allah menguji dirinya. Iblis tidak ingin melihat dirinya begitu taat kepada Allah Swt. Setelah ditinggalkan oleh istrinya, beliau memohon kepada Allah agar segera disembuhkan dari penyakit yang dideritanya.

Nabi Ayub Sembuh dari Penyakitnya

nabi ayub

Gambar oleh dana110 dari Pixabay

Bertahun-tahun telah terlewati dan Nabi Ayub masih menderita karena penyakitnya dalam keadaan sendirian. Selama itu pula keimanan beliau tidak pernah turun sedikit pun kepada Allah Swt. Semua hal yang Nabi Ayub miliki sudah hilang tak tersisa, iblis pun sudah menyerah menggoda beliau untuk menggoyahkan imannya. Semua yang dilakukan Iblis tidak membuahkan hasil dan berakhir dengan sia-sia.

Keimanan yang kokoh dari Nabi Ayub sudah diperlihatkan oleh Allah kepada iblis, rasa percaya kepada takdir Allah yang tak sedikit pun goyah karena cobaan yang terus-menerus menerpanya. Iblis telah kalah telak dalam menggoda Nabi Ayub.

Setelah melewati berbagai cobaan, Allah memerintahkan nabi untuk memijakkan kakinya, lalu keluarlah air dari pijakan kaki beliau, beliau lantas mandi dan minum air tersebut. Melalui air tersebut Nabi Ayub dapat sembuh dari penyakit yang  dideritanya. Setelah sembuh, beliau langsung mencari istrinya untuk melaksanakan nazar yang telah diucapkan ketika sang istri pergi meninggalkannya.

Melaksanakan Nazar yang Telah Diucapkan

nabi ayub

Gambar oleh Sandra Ferentschik dari Pixabay

Nabi Ayub yang telah sembuh dari penyakitnya, langsung pergi mencari istrinya untuk membayar nazar yang pernah beliau ucapkan saat meninggalkan dirinya seorang diri. Beliau berjanji akan menghukum istrinya. Namun, beliau tidak tega melakukan hal tersebut kepada istrinya karena beliau terlalu mencintai istrinya.

Agar tetap melaksanakan nazarnya, beliau mengambil rumput sebanyak seratus batang dan diikatnya menjadi satu lalu Nabi Ayub menghukum istrinya dengan memukulnya sebanyak satu kali.

Istri Nabi Ayub  merupakan wanita yang penurut dan taat kepada suami, ia meninggalkan Nabi Ayub karena tergoda oleh rayuan iblis yang terkutuk. Oleh karena itu, Allah memaafkan istri nabi karena Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Setelah mengalami berbagai cobaan yang datang  berturut-turut,  Allah mengaruniai Nabi Ayub anak yang banyak. Harta yang dahulu telah diambil, kini telah dikembalikan lagi kepada beliau.

Hikmah dari Kisah Nabi Ayub

nabi ayub

Gambar oleh huafang xue dari Pixabay

Kenikmatan dunia dan kesulitan hidup, keduanya merupakan ujian yang diberikan Allah kepada kita dalam bentuk yang berbeda. Namun, percayalah setiap ujian yang diberikan merupakan pertanda Allah sangat menyayangi dan rindu kepada diri kita untuk meningkatkan iman, takwa, dan beribadah kepada-Nya.

Dari berbagai kisah Nabi Ayub, kita dapat mengetahui bahwa dengat tetap bersyukur terhadap segala hal yang terjadi pada diri kita dan bersabar dalam menghadapi segala macam pelajaran hidup. Janganlah kita patah semangat dengan ujian yang datang, tersenyumlah, berbahagialah, dan tetap berpikir bahwa Allah memberikan ujian untuk mendatangkan berbagai hal terbaik yang akan kita dapatkan pada waktu yang sama sekali tak terduga oleh kita.

Leave a Reply