Makna Tradisi Tumpengan untuk Masyarakat Indonesia

tradisi tumpengan

Biasanya nasi tumpeng disajikan di pada acara atau perayaan yang tertentu. Misalnya saja acara pernikahan, khitanan, akikah, atau lain sebagainya. Namun, tahukah Teman-Teman mengapa nasi tumpeng memiliki bentuk kerucut serta adanya selalu saat berlangsungnya sebuah acara? Tahukah juga Teman-Teman makna dari tradisi tumpengan

Sebenarnya, nasi tumpeng sudah ada dari dulu kala. Nasi tumpeng merupakan suatu simbol kekayaan yang dimiliki oleh nusantara. Teman-Teman dapat melihat beragam lauk di nasi tumpeng. Ada sayur-sayuran seperti mentimun, cabai, tomat, dan lain sebagainya. Itu menjadi tanda jika nusantara merupakan daerah yang memiliki tanah subur. Sehingga berbagai macam tanaman sayur bisa tumbuh secara baik. Demikian pula, lauk pauk lainnya yang dipilih menjadi perwakilan juga dari kekayaan alam di Indonesia lainnya. 

Tumpeng disajikan pada nampan besar berbentuk bulat dan dari anyaman bambu, biasanya juga disebut dengan tampah. Tumpeng adalah tradisi sajian pada upacara, baik itu bersifat gembira maupun bersifat sedih. Tumpeng bentuknya seperti gunung yang menggambarkan tentang kemakmuran yang sejati. Air mengalir dari gunung dapat menghidupi berbagai macam tumbuhan di sekitarnya. Tumbuhan berbentuk robyong atau yang juga dikenal dengan semen atau semi, memiliki arti atau makna, hidup dan juga tumbuh berkembang. 

Di jaman dulu, tumpeng disajikan dengan nasi putih. Nasi putih serta lauk pauk pada tumpeng memiliki arti yang simbolik. Berikut penjelasannya:

1. Nasi

tradisi tumpengan
Gambar Oleh: https://www.kompas.com/

Nasi pada tradisi tumpengan tentunya berbentuk kerucut atau seperti gunungan. Di mana hal tersebut melambangkan tangan yang merapat menyembah Tuhan. Teman-Teman pasti sering melihat tumpeng menggunakan nasi kuning, kan? Ternyata nasi yang digunakan untuk tumpeng tidak selalu nasi kuning. Nasi putih dan nasi uduk pun bisa dijadikan tumpengan. Tiap nasi memiliki maknanya tersendiri. Nasi kuning melambangkan kekayaan dan moral yang luhur. Biasanya nasi kuning digunakan untuk acara-acara syukuran. Nasi putih berarti kesucian dan sering digunakan untuk acara sacral. Nasi uduk digunakan untuk membuat tumpeng ketika peringatan Maulid Nabi.

2. Ayam Jago atau Jantan

tradisi tumpengan
Gambar Oleh: https://lifestyle.okezone.com/

Ayam dimasak secara utuh dengan bumbu kuning serta diberi kaldu santan kental atau areh. Ini merupakan simbol menyembah Tuhan secara khusuk dan hati tenang. Ketenangan hati bisa didapatkan atau dicapai dengan sabar dan kendalikan diri. Menyembelih ayam jantan pun memiliki makna menghindari berbagai sifat buruk seperti congkak, sombong, jika berbicara selalu menyala serta merasa benar, tahu, atau menang, tak setia dan tak perhatian ke anak-istri.

3. Ikan Lele

tradisi tumpengan
Gambar Oleh: http://carakanews.com/

Dulu ikan lele adalah lauk ikan yang dipakai pada nasi tumpeng. Ikan lele bisa bertahan hidup di air tak mengalir serta di dasar sungai. Hal itu adalah simbol dari keuletan, ketabahan dalam hidup serta mampu untuk hidup pada situasi ekonomi terbawah sekalipun. Kalau saat ini ikan lele diganti dengan ikan gurame atau ikan bandeng.

4. Ikan Teri atau Gereh Pethek 

tradisi tumpengan
Gambar Oleh: https://www.kompas.com/

Ikan teri atau gereh pethek bisa digoreng dengan tepung atau tidak. Ikan teri serta ikan pether hidup di laut serta bergerombol yang simbolkan kerukunan dan kebersamaan. 

5. Telur

tradisi tumpengan
Gambar Oleh: https://www.idntimes.com/

Telur pindang rebus, tak hanya didadar atau dimasak mata sapi, serta disajikan utuh bersama kulitnya dan tidak dipotong, sehingga harus mengupas dahulu sebelum memakannya. Hal itu lambangkan jika semua tindakan haruslah direncanakan, dikerjakan sesuai dengan rencana serta hasilnya dievaluasi untuk kesempurnaan. Telur pun melambangkan manusia diciptakan dengan derajat yang sama oleh Tuhan, yang membedakan yaitu tingkah laku dan ketakwaannya. 

6. Sayuran dan Urap-urapan

tradisi tumpengan
Gambar Oleh: https://alifbahana-4u.blogspot.com/

Sayuran pada tumpeng yang digunakan biasanya bayam, kangkung, tauge, kacang panjang, kluwih bersama bumbu urap atau parutan kelapa. Sayur-sayuran itu pun mengandung simbol, seperti:

  • Bayam memiliki arti ayem tentrem. 
  • Kangkung memiliki arti jinangkung atau melindungi, dan tercapai.
  • Tauge atau kecambah memiliki arti tumbuh
  • Kacang panjang memiliki arti pemikiran inovatif atau jauh ke depan.
  • Bawang merah melambangkan tentang mempertimbangkan segala sesuatu secara matang mengenai baik dan buruknya. 
  • Cabai merah yang diletakkan pada ujung tumpeng merupakan simbol api yang berikan cahaya atau penerangan atau tauladan yang memberikan manfaat untuk orang lain.  
  • Kluwih memiliki arti linuwih atau memiliki kelebihan daripada yang lainnya. 
  • Bumbu urap memiliki arti urip atau hidup atau mampu untuk menghidupi keluarga.

Di jaman dulu, orang yang dituakan atau sepuh akan memimpin doa selamatan yang umumnya akan menjelaskan lebih dulu makna yang terkandung pada tumpeng. Dengan begitu, orang-orang yang hadir mengetahui makna dari tumpeng serta mendapatkan wedaran berupa nasehat dan ajaran hidup. 

Pada acara selamatan, nasi tumpeng lalu dipotong, setelah itu diberikan pada orang tua ataupun orang yang memang dituakan sebagai bentuk dari penghormatan. Setelahnya, nasi tumpeng disantap bersama. Upacara potong tumpeng pada tradisi tumpengan melambangkan tentang rasa syukur pada Tuhan dan juga ajaran hidup tentang kerukunan dan kebersamaan.

Cari Tahu Tentang Tari Cakalele dari Maluku, Yuk!

tari cakalele

Tari Cakalele adalah salah satu satu tarian perang yang cukup terkenal di Indonesia. Tari cakalele adalah salah satu tarian khas masyarakat Maluku. Tarian ini memiliki salah bentuk atraksi seni yang melambangkan sebuah rasa keberanian, keperkasaan, ketangkasan dan juga persekutuan.

Tari cakalel adalah tarian perang dari Maluku yang mana membutuhkan 5 hingga 30 orang penari. Sebenarnya secara umum tarian ini memberikan gambaran mengenai perjuangan dari rakyat Maluku dalam membela kebenaran.

Sejarah tari Cakalele

tari cakalele
Gambar Oleh: https://greatnesia.id/

Pada awalnya, Tari cakalele adalah tari perang yang dipertunjukan untuk memberikan semangat pada pasukan yang akan melawan penjajahan. Namun jika menelisik menurut sejarahnya, maka tari cakalele adalah salah satu jenis tarian yang merupakan sebuah bentuk penghormatan untuk nenek moyang dari bangsa Maluku yang merupakan seorang pelaut. 

Biasanya sebelum akan mengarungi lautan, para pelaut akan melakukan sebuah agenda ritual dengan mengadakan sebuah pesta makan, minum dan berdansa bersama. Ketika melakukan ritual, mereka juga melakukan tarian cakalele sebelum akan melaut. Masyarakat Maluku percaya jika mereka akan mendapatkan restu dari para arwah leluhurnya yang merupakan seorang pelaut. 

Pada saat akan menarikan tari cakalele, para penarinya akan menggunakan pakaian perang. Pakaian perang ini dikenakan oleh para penari laki – laki dan biasanya didominasikan dengan pakain berwarna terang, dan secara umum biasanya warna merah dan kuning tua yang menjadi pilihannya. Sedangkan untuk para penari wanita atau biasanya disebut dengan mai mai akan menggunakan pakaian dengan warna putih. 

Kelengkapan untuk Tari Cakalele

tari cakalele
Gambar Oleh: https://www.genpi.co/

Saat akan melakukan tari cakalele, ada beberapa perlengkapan menari yang harus dikenakan oleh para penarinya. Untuk penari laki–laki, selain menggunakan pakaian perang dengan warna terang, juga harus melengkapi atributnya dengan pedang yang digenggam di tangan dan salawaku atau perisai. Sedangkan untuk penari wanita, selain menggunakan pakaian putih, juga dilengkapi dengan membawa sapu tangan atau lenso. 

Untuk pakaian dan juga kelengkapan yang dikenakan oleh penari laki – laki memiliki artinya tersendiri. Pakaian perang warna merah memiliki makna jiwa kepahlawan. Ini menandakan jika penduduk Maluku memiliki keberanian dan rasa patriotisme yang tinggi pada saat akan melawan musuh mereka. 

Sedangkan pedangnya memiliki makna sebagai harga diri dari masyarakat Maluku yang memang harus dipertahankan. Sedangkan tameng serta teriakan yang lantang ketika melakukan tarian cakalele, memiliki makna protes kepada sistem pemerintahan yang mana mereka tidak memihak pada kehidupan masyarakat.

Di zaman sekarang ini, ada beberapa penari yang menggunakan tutup kepala yang dihiasi dengan bulu dari burung cendrawasih atau bisa juga dari kain. Makna dari bulu ini menjadi penting untuk orang Banda, terutama untuk adat dan budaya bagi tradisi tari cakalele itu sendiri. Tarian cakalele sendiri sebenarnya tidak bisa ditarikan leluasa jika tidak ada burung cendrawasih yang tidak terpasang di kepala dari para penarinya. 

Selain para penari dari tari cakalele, tarian ini juga akan diiringi dengan para pemegang umbul – umbul dan juga para pembantu lainnya. Musik tarian dari tari cakalele ini diiringi dengan musik rifa, bia, dan suling. Penari akan tampil dengan gerakan yang sesuai dengan lagu sebagai salah satu bentuk perwujudan dan juga rasa patriotisme dan juga semangat heroik yang tinggi dari para penarinya. 

Pada dasarnya, tari cakalele adalah salah satu bentuk tarian yang sangat sakral. Tarian perang ini juga tidak boleh dipentaskan oleh orang luar yang bukan bagian dari suku Maluku. Karena tarian ini hanya boleh dilakukan oleh anak adat setempat. 

Fungsi Tari Cakalele

tari cakalele
Gambar Oleh: http://tari-daerah-indonesia.blogspot.com/l

Untuk saat ini, tari cakalele memang lebih sering digunakan untuk pertunjukan saat akan menyambut tamu agung dan juga untuk acara adat. Tari cakalele memang tidak bisa selalu bisa dipertunjukkan, karena dipelukan banyak penari dan kelengkapan serta diperlukan persiapan yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi dalam waktu yang lama. Secara umum, tari cakalele memerlukan penari setidaknya 30 orang. Selain itu, ada juga penabuh gendang, pemukul gong, pemegang umbul –umbul serta beberapa pemuka adat dengan pasangan suami istri yang melengkapi tarian ini. Jika dilihat secara adat, fungsi dari pelengkap ini tidak bisa diubah dan diganti dengan orang lain. Karena cakalele sendiri adalah tarian yang membentuk sebuah keutuhan adat yang sangat kental dengan sebuah ritual dan mistik. 

Untuk atraksi dari tari cakalele yang digunakan untuk penyambutan tamu jarang menggunakan parang seperti zaman dulu. Alat yang sering digunakan saat ini adalah dengan umbul-umbul yang terbuat dari daun kelapa. Sedangkan pakaian adat harus tetap digunakan ketika sedang melakukan tarian ini. Tapi, para penari juga boleh menggunakan pakaian adat yang lebih berkreasi ketika tarian cakalele digunakan untuk menyambut tamu. 

 

Makna di Balik Sekapur Sirih

sekapur sirih

Pernahkah kamu mendengar istilah sekapur sirih? Jika kamu sering menghadiri acara tentunya istilah tersebut sudah tidak asing lagi bukan. Pasalnya istilah tersebut seringkali digunakan sebagai sambutan dalam sebuah acara. Akan tetapi apa sih yang dimaksud dengan sekapur sirih? Untuk mengetahui arti serta makna yang dikandungnya. Pastikan agar kamu memperhatikan penjelasan berikut ini. 

Mengenal Arti Kata Sekapur Sirih 

Istilah sekapur sirih hadir dengan dua arti berbeda. Hal ini seperti yang telah dijelaskan pada penggunaan padanan kata dalam Bahasa Indonesia. Untuk arti pertama dikenal sebagai sirih lengkap dan disertai dengan ramuan tradisionalnya. Dalam hal ini termasuk bahan kapur di bagian dalamnya. Sedangkan di Bali, kapur dikenal dengan sebutan pamor. Sementara itu, untuk arti istilah sekapur sirih yang kedua adalah pengantar. Baik itu pengantar yang ada dalam buku bacaan dan jenis buku lainnya. Kemudian juga diartikan sebagai pengantar atau sambutan dalam suatu acara tertentu. 

Asal Usul Kata Serta Penggunaan Istilah Sekapur Sirih

sekapur sirih
Gambar Oleh: https://batam.tribunnews.com/

Jika dilihat dari arti kata sekapur sirih, baik itu arti pertama atau bahkan kedua. Terlihat jelas bahwa keduanya telah memiliki hubungan atau saling terikat. Apalagi jika dikaitkan dengan Adat Melayu. Karena patut untuk kamu ketahui, bahwa istilah sekapur sirih berasal dari Bahasa Melayu. Tidak heran jika kemudian penggunaannya pun dikaitkan dengan adat kebudayaan dari Melayu.

Dalam hal ini masyarakat Melayu seringkali menggunakan sirih sebagai alat untuk menyambut tamu. Selain itu, penggunaannya pun ditujukan untuk memberikan penghormatan pada tamu dalam acara tertentu. Sirih sendiri biasanya diletakkan pada wadah khusus yang telah dilengkapi dengan sarana pendukung lainnya.  

Sementara itu, dalam sebuah acara formal sirih tersebut akan disediakan secara bersamaan. Maksudnya adalah bersamaan dengan ucapan atau kata pengantar yang diberikan oleh pembawa acara atau bahkan sesepuh. Karena itulah, istilah Sekapur Sirih seringkali digunakan untuk menyebutkan sambutan atau pun kata pengantar. 

Nama Tarian Sekapur Sirih 

sekapur sirih
Gambar Oleh: https://jambi.kemenkumham.go.id/

Selain dikenal sebagai istilah untuk menyebutkan kata pengantar atau sambutan. Sekapur sirih juga dikenal sebagai nama dari sebuah tarian tradisional. Tarian tersebut berasal dari kawasan Jambi dan seringkali ditampilkan pada awal acara atau pembukaan. 

Makna Tarian Sekapur Sirih 

sekapur sirih
Gambar Oleh: http://www.negerikuindonesia.com/

Tarian sekapur sirih seringkali ditampilkan pada awal pembukaan acara tertentu. Tarian yang satu ini memang dikenal sebagai tarian yang digunakan untuk menyambut tamu agung. Dengan kata lain, penggunaan nama pada tarian ini tidak jauh berbeda dengan makna istilah yang dimilikinya. 

Pada awalnya tarian sekapur sirih hanya dikenal oleh masyarakat Jambi saja. Namun karena keunikan yang dimilikinya. Kini tarian tersebut pun telah menyebar luas hingga mencapai Riau dan bahkan Malaysia. 

Dalam tarian sekapur sirih terdapat beberapa gerakan khusus yang ditampilkannya. Gerakan tersebut memiliki makna yang mendalam. Makna itu hadir dalam bentuk rasa syukur serta sukacita yang ditunjukkan masyarakat dalam menyambut datangnya para tamu. 

Pertunjukkan Tari Sekapur Sirih

sekapur sirih
Gambar Oleh: https://pariwisataindonesia.id/

Untuk pertunjukkan tari sekapur sirih umumnya hal tersebut akan dilakukan sekelompok orang penari. Penari tersebut terdiri dari para perempuan dengan gerakan yang luwes dan tampilan elegan. Akan tetapi ada pula penampilan tarian tersebut yang dilakukan oleh penari laki-laki dan perempuan. Hal ini umumnya dilakukan dengan jumlah kombinasi antara 3 orang laki-laki dan 9 orang perempuan. Tarian ini juga diiringi musik tradisional dengan lirik yang mengandung makna mendalam. 

Demikianlah penjelasan singkat mengenai makna di balik kata sekapur sirih beserta tarian yang dimilikinya. 

 

10 Rumah Adat Terpopuler Di Indonesia

rumah adat

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan budaya yang melimpah. Beragam suku hidup di tanah nusantara ini. Setiap suku memiliki ciri khas dan karakteristik tersendiri. Mulai dari bahasa, pakaian, adat istiadat, makanan hingga rumahnya. Rumah adat belakangan ini kian berkurang jumlahnya. Mereka hanya bisa ditemui di lokasi-lokasi tertentu atau di tempat yang telah dikhususkan. Rumah adat merupakan ciri dan karakter sebuah suku.

Rumah Adat Merupakan Ciri Khas Suku Tertentu

Berikut ini sepuluh rumah adat paling populer di Indonesia yang mampu menarik perhatian wisatawan lokal hingga mancanegara.

1. Rumah Adat Banten Baduy

Rumah Adat Banten Baduy
Oleh: http://albantanipro.blogspot.com

Rumah adat baduy banten digunakan oleh Suku Baduy yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Suku yang mengisolasi dari teknologi modern ini hidup dalam kesederhanaan. Rumah yang mereka gunakan hanya berbahan kayu dan bambu. Yang menjadi ciri khas rumah adat ini adalah bentuk rumah panggung yang hampir di seluruh bagian rumah. Ukuran dan status kekayaan suku ini tidak dilihat dari besar kecil rumahnya, namun dari jumlah tembikar yang dimiliki. Semua bentuk dan ukuran rumah adat Suku Baduy rata-rata sama dan seukuran.

2. Rumah Adat Sulawesi Barat Mandar

Rumah Adat Sulawesi Barat Mandar
Oleh: https://elizato.com

Rumah adat Mandar bisa ditemui di daerah Mamuju Sulawesi Barat. Rumah adat ini merupakan ciri khas suku Mandar. Rumah adat yang satu ini tergolong megah karena bentuknya berupa rumah panggung yang cukup tinggi. Tinggi tiang penyangganya saja sekitar dua meter dan terbuat dari kayu balok yang cukup besar. Dinding rumah ini menggunakan kayu atau papan yang diukir sesuai dengan motif khas dari suku ini. rumah adat ini benar-benar menunjukkan budaya dan karya seni yang bernilai tinggi.

3. Rumah Adat Papua Honai

Rumah Adat Papua Honai
Oleh: https://www.romadecade.org

Suku daerah Indonesia Timur ini merupakan salah satu suku yang juga masih memegang erat peninggalan budaya nenek moyang mereka. Bentuk rumah adat Papua Honai ini sangat unik. Berbahan dasar kayu dan ijuk, mereka bisa tinggal dengan nyaman di dalamnya. Rumah Honai berbentuk  kerucut hampir mirip dengan bentuk jamur kancing. Rumah ini menjadi pusat segala macam kegiatan seperti pendidikan dan pengajaran. Rumah Honai dibedakan menjadi tiga macam yaitu rumah untuk pria, untuk wanita dan untuk hewan.

4. Rumah Adat Minahasa (Wale/Bale)

Rumah Adat Minahasa
Oleh: https://www.pewartanusantara.com

Rumah adat Minahasa dikenal juga dengan sebutan rumah Wale atau Bale. Rumah ini cukup unik. Seperti halnya rumah panggung yang lainnya, rumah panggung Minahasa juga menggunakan tiang penyangga berupa kayu yang kokoh, biasanya berjumlah 16 atau 18 tiang. Di serambi depan, terdapat dua buah tangga yang menyiratkan filosofi yang mereka anut. Filosofi tersebut memiliki makna khusus yaitu pada saat melakukan peminangan anak gadis. Pada umumnya, rumah adat minahasa dihuni oleh lebih dari satu keluarga. Setiap keluarga memiliki dapur dan perekonomian yang diatur sendiri-sendiri.

5. Rumah Adat Sumatera Utara Bolon

Rumah Adat Sumatera Utara Bolon
Oleh: https://sportourism.id

Rumah Adat Bolon merupakan rumah adat suku Batak yang ada di daerah Sumatera Utara. Suku Batak merupakan suku terbesar kedua setelah suku Jawa. Rumah adat suku batak ini masih serupa dengan rumah adat di daerah sumatera lainnya yaitu berupa rumah panggung. Tiang penyangganya berupa kayu yang berdiameter sekitar 40cm. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu sedangkan atapnya menggunakan daun rumbia atau ijuk. Rumah adat Bolon ini memiliki atap yang meruncing seperti pelana kuda. Rumah adat yang satu ini cukup unik karena tidak menggunakan satu paku pun dalam pembuatannya.

6. Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan

Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan
Oleh: https://www.romadecade.org

Rumah adat Tongkonan adalah rumah adat bagi suku Toraja. Suku ini memang terkenal oleh adat yang masih melekat dengan kuat. Berbagai macam ritual dan upacara sering ditemui setiap saat. Rumah Adat Tongkonan ini berfungsi untuk menyimpan jasad anggota keluarga yang sudah meninggal. Atap rumah adat Tongkonan berbentuk seperti perahu besar. Hal ini sesuai keyakinan suku toraja bahwa nenek moyang mereka berlayar menggunakan perahu besar ke Nusantara.

7. Rumah Adat Sumatera Selatan Limas

Rumah Adat Sumatera Selatan Limas
Oleh: http://www.toyotaindonesiamanufacturing.co.id/

Satu lagi rumah adat dari daerah Sumatera, yaitu Rumah Adat Limas. Rumah adat penduduk palembang ini berasal dari kata lima dan emas. Bangunan rumah limas dibuat bertingkat-tingkat sesuai dengan filosofi yang mereka anut. Lima merujuk kepada lima jenjang kehidupan bermasyarakat yaitu Usia, bakat, jenis, martabat dan pangkat. Rumah adat limas ini juga merupakan bentuk rumah panggung dengan menggunakan tiang penyangga berukuran 1,5 meter hingga 2 meter.

8. Rumah Adat DKI Jakarta (Kebaya)

Rumah Adat DKI Jakarta
Oleh: http://jakarta-tourism.go.id

Rumah adat kebaya merupakan rumah adat suku Betawi. Rumah adat yang satu ini terbilang cukup unik karena atapnya mirip seperti pelana kuda yang dilipat. Rumah kebaya memiliki teras yang sangat luas dengan meja kursi yang umumnya terbuat dari kayu. Teras yang terbuka ini memiliki nilai filosofi tersendiri yaitu bahwa suku betawi adalah orang yang terbuka, menerima dan menghargai tamu yang datang tanpa melihat status dan jabatannya. Teras rumah kebaya meskipun bentuknya terbuka, namun biasanya dilengkapi dengan pagar setinggi pinggul orang dewasa. Pagar ini juga mengandung makna filosofi tersendiri yaitu meskipun suku betawi merupakan orang yang terbuka, namun mereka tetap memiliki batasan dan bisa membedakan hal yang positif dan negatif.

9. Rumah Adat Sumatera Barat Gadang

Rumah Adat Sumatera Barat Gadang
Oleh: https://kumparan.com

Rumah adat gadang merupakan rumah adat milik suku Minangkabau di wilayah Sumatera Barat. Rumah Gadang adalah salah satu rumah adat yang paling populer dan tidak pernah sepi dari kunjungan turis lokal ataupun mancanegara. Rumah Gadang mengandung nilai adat dan filosofi yang tinggi. Setiap bagian rumahnya mengandung pesan dan makna yang positif. Rumah Adat Gadang berbentuk rumah panggung dengan beberapa tangga kecil. Yang paling menarik dari rumah Gadang adalah bentuk atapnya yang menarik. Bentuknya seperti tanduk kerbau yang melonjong.

10. Rumah Adat Jawa Tengah Joglo

Rumah Adat Jawa Tengah Joglo
Oleh: https://budayajawa.id/

Rumah adat yang satu ini paling terkenal dan populer. Ciri khas rumah joglo ini adalah memiliki pagar memutar setinggi kurang lebih 1 meter, pintu utama yang terletak di tengah rumah, teras yang sangat luas dengan didukung empat tiang penyangga, dan juga jendela yang besar dan banyak. Masyarakat jawa merupakan masyarakat yang masih kental dengan ajaran kejawennya atau dikatakan masih menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat. Setiap bagian rumah joglo membawa nilai atau filosofi tersendiri. Diantaranya yaitu model atap seperti gunung yang dianggap sebagai tempat sakral, empat tiang penyangga merupakan perwakilan dari empat penjuru mata angin, dan lain sebagainya.

Itulah kesepuluh rumah adat Indonesia yang cukup populer dan terkenal hingga ke manca negara. Rumah Adat ini merupakan peninggalan yang tidak ternilai harganya. Setiap rumah adat memiliki filosofi tersendiri yang ingin dijunjung tinggi oleh masyarakat sukunya.  Oleh sebab itu, keberadaan rumah-rumah adat ini harus dilestarikan dan terus dipelihara.

error: Isi artikel ini dilindungi !!