Seperti Apa Sejarah Bendera Merah Putih?

bendera merah putih

Sebagai rakyat Indonesia, kita semua perlu tahu mengenai sejarah bendera merah putih. Terutama bagi para anak-anak dan remaja, Teman-Teman semua, sebagai generasi muda penerus bangsa maka harus mengetahui sejarah bendera merah putih dan arti kiasan warnanya sebagai berikut ini.

Sejarah Merah Putih

bendera merah putih
Gambar Oleh: Gambar oleh jorono dari Pixabay

Simbol warna merah putih sebenarnya telah sejak lama dipergunakan oleh bangsa Indonesia, yakni sejak masih dalam bentuk kerajaan-kerajaan di nusantara. Warna merah melambangkan suatu keberanian dan warna putih melambangkan suatu kesucian. Warna merah juga bisa untuk melambangkan tubuh atau raga manusia serta warna putih sebagai lambang untuk jiwa manusia. Dalam kepercayaan kuno, warna merah juga dianggap sebagai perlambang sisi feminin yakni ibu bumi dan warna putih dianggap sebagai lambang sisi maskulin yakni bapak langit, sebagai suatu pasangan. 

Dalam sejarahnya sejak jaman  kerajaan Kediri pada masa Raja Jayakatwang, simbol merah putih tersebut telah digunakan. Selanjutnya, pada masa tahun 1350 hingga tahun 1389, bendera Merah Putih pun selalu menjadi simbol yang digunakan pada tiap upacara hari kebesaran oleh Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Diketahui pula bahwa di sekitar abad ke 14, bendera Merah Putih juga dikibarkan di tanah Minangkabau, pada masa kekuasaan Raja Adityawarman. Lalu pada  tahun 1613 hingga 1645, Sultan Agung, pun menggunakan Bendera Merah Putih sebagai simbol pada saat Kerajaan Mataram sedang berperang menghadapi VOC di Batavia. Kemudian oleh Sisimangaraja ke IX dari Batak pun menggunakannya sebagai panji perang pengobar semangat pasukan pada saat perang menghadapi serangan Belanda. Lalu pada periode 1825 hingga 1830, Pangeran Diponegoro juga mengibarkan Bendera Merah Putih sebagai simbol perlawanan menghadapi Belanda saat perang gerilya. 

Pada awal abad ke 20, maka bendera merah putih dipergunakan sebagai simbol protes dan perlawanan kaum pelajar dan kaum nasionalis bangsa Indonesia untuk bisa lepas dari penjajahan Belanda. Di tahun 1922 Uni Indonesia, yakni suatu organisasi nasionalis pelajar Indonesia yang sedang belajar di Belanda pun menggunakan simbol bendera merah putih tersebut. Lalu partai tertua yaitu Partai Nasionalis Indonesia yang disingkat sebagai PNI dengan nama Perserikatan Nasional Indonesia yang didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 juga menggunakan simbol bendera tersebut. Bendera merah dan putih pun berkibar pada saat pelaksanaan Kongres Pemuda II di Batavia, sekarang Jakarta, di tanggal 28 Oktober 1928 yang pada peristiwa tersebut juga lahirlah Sumpah Pemuda. 

Selanjutnya,  setelah Perang Dunia ke II dan proklamasi kemerdekaan Indonesia, bendera merah putih pun akhirnya secara resmi menjadi bendera nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bendera merah putih pertama kali dikibarkan di wilayah NKRI secara sah dan resmi pada Hari Kemerdekaan di tanggal 17 Agustus 1945. Bendera merah putih dibuat dengan mesin jahit oleh Fatmawati, yakni istri Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Setelah puluhan tahun kemudian, tepatnya setelah tahun 1968, bendera merah putih tersebut pun dibuat duplikatnya lalu bendera merah putih pertama yang sangat bersejarah bagi kemerdekaan Indonesia itupun disimpan di Museum Nasional atau Monas.

Bentuk Bendera Merah Putih

Seperti Apa Sejarah Bendera Merah Putih? 1
Gambar Oleh: Gambar oleh Reinaldo Reinhart dari Pixabay

Bentuk resmi bendera merah putih ialah berupa persegi Panjang. Dengan rasio ukuran lebar dibanding panjang ialah sebesar dua pertiga bagian. Kemudian pada bagian atasnya dalam warna merah serta pada bagian bawahnya berwarna putih. Ukuran luas kedua bagian warnanya sama. Sedangkan mengenai ukuran besar kecilnya bendera bisa beragam namun tetap dalam rasio 2:3 sebagaimana tersebut di atas. Bahannya bisa terbuat dari kain atau plastik atau kertas.

Nama Lain Bendera Merah Putih

bendera merah putih
Gambar Oleh: Gambar oleh Mufid Majnun dari Pixabay

Bendera merah putih sebagai simbol negara juga disebut sebagai bendera pusaka, atau secara lengkapnya ialah disebut sebagai Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih. Bendera merah putih juga sering disebut sebagai bendera dwiwarna. Kemudian biasa juga disebut sebagai bendera negara.

Beberapa Hal Terkait Bendera Merah Putih

bendera merah putih
Gambar Oleh: Gambar oleh Mufid Majnun dari Pixabay

Dengan dijadikannya bendera merah putih sebagai simbol negara Indonesia yang resmi, maka ditetapkan pula aturan penggunaannya yang harus Teman-Teman ketahui dan perhatikan. Antara lain ialah adanya larangan digunakan untuk acara-acara komersial, juga ada beberapa hal lain sebagai berikut:

  • Bendera negara yang dipasang di bagian dinding, maka harus dipasang secara membujur rata.
  • Bendera Merah Putih dapat dipergunakan sebagai penutup peti jenazah bagi para pahlawan negara yang gugur membela negara.
  • Bendera merah putih bisa dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berduka cita atas meninggalnya seorang pahlawan negara atau guna mengenang saat duka cita bagi bangsa Indonesia.
  • Bendera merah putih yang telah rusak seperti kusam atau robek dilarang untuk dikibarkan.

Teman-teman juga perlu tahu bahwa pada saat pengibaran bendera, bendera merah putih harus dinaikkan dan juga pada saat diturunkan dari tiangnya dilakukan secara perlahan tanpa menyentuh tanah. 

Itulah sejarah bendera merah putih singkat yang perlu Teman-Teman ketahui, sebagai rakyat Indonesia.

 

Cari Tahu Tentang Tari Cakalele dari Maluku, Yuk!

tari cakalele

Tari Cakalele adalah salah satu satu tarian perang yang cukup terkenal di Indonesia. Tari cakalele adalah salah satu tarian khas masyarakat Maluku. Tarian ini memiliki salah bentuk atraksi seni yang melambangkan sebuah rasa keberanian, keperkasaan, ketangkasan dan juga persekutuan.

Tari cakalel adalah tarian perang dari Maluku yang mana membutuhkan 5 hingga 30 orang penari. Sebenarnya secara umum tarian ini memberikan gambaran mengenai perjuangan dari rakyat Maluku dalam membela kebenaran.

Sejarah tari Cakalele

tari cakalele
Gambar Oleh: https://greatnesia.id/

Pada awalnya, Tari cakalele adalah tari perang yang dipertunjukan untuk memberikan semangat pada pasukan yang akan melawan penjajahan. Namun jika menelisik menurut sejarahnya, maka tari cakalele adalah salah satu jenis tarian yang merupakan sebuah bentuk penghormatan untuk nenek moyang dari bangsa Maluku yang merupakan seorang pelaut. 

Biasanya sebelum akan mengarungi lautan, para pelaut akan melakukan sebuah agenda ritual dengan mengadakan sebuah pesta makan, minum dan berdansa bersama. Ketika melakukan ritual, mereka juga melakukan tarian cakalele sebelum akan melaut. Masyarakat Maluku percaya jika mereka akan mendapatkan restu dari para arwah leluhurnya yang merupakan seorang pelaut. 

Pada saat akan menarikan tari cakalele, para penarinya akan menggunakan pakaian perang. Pakaian perang ini dikenakan oleh para penari laki – laki dan biasanya didominasikan dengan pakain berwarna terang, dan secara umum biasanya warna merah dan kuning tua yang menjadi pilihannya. Sedangkan untuk para penari wanita atau biasanya disebut dengan mai mai akan menggunakan pakaian dengan warna putih. 

Kelengkapan untuk Tari Cakalele

tari cakalele
Gambar Oleh: https://www.genpi.co/

Saat akan melakukan tari cakalele, ada beberapa perlengkapan menari yang harus dikenakan oleh para penarinya. Untuk penari laki–laki, selain menggunakan pakaian perang dengan warna terang, juga harus melengkapi atributnya dengan pedang yang digenggam di tangan dan salawaku atau perisai. Sedangkan untuk penari wanita, selain menggunakan pakaian putih, juga dilengkapi dengan membawa sapu tangan atau lenso. 

Untuk pakaian dan juga kelengkapan yang dikenakan oleh penari laki – laki memiliki artinya tersendiri. Pakaian perang warna merah memiliki makna jiwa kepahlawan. Ini menandakan jika penduduk Maluku memiliki keberanian dan rasa patriotisme yang tinggi pada saat akan melawan musuh mereka. 

Sedangkan pedangnya memiliki makna sebagai harga diri dari masyarakat Maluku yang memang harus dipertahankan. Sedangkan tameng serta teriakan yang lantang ketika melakukan tarian cakalele, memiliki makna protes kepada sistem pemerintahan yang mana mereka tidak memihak pada kehidupan masyarakat.

Di zaman sekarang ini, ada beberapa penari yang menggunakan tutup kepala yang dihiasi dengan bulu dari burung cendrawasih atau bisa juga dari kain. Makna dari bulu ini menjadi penting untuk orang Banda, terutama untuk adat dan budaya bagi tradisi tari cakalele itu sendiri. Tarian cakalele sendiri sebenarnya tidak bisa ditarikan leluasa jika tidak ada burung cendrawasih yang tidak terpasang di kepala dari para penarinya. 

Selain para penari dari tari cakalele, tarian ini juga akan diiringi dengan para pemegang umbul – umbul dan juga para pembantu lainnya. Musik tarian dari tari cakalele ini diiringi dengan musik rifa, bia, dan suling. Penari akan tampil dengan gerakan yang sesuai dengan lagu sebagai salah satu bentuk perwujudan dan juga rasa patriotisme dan juga semangat heroik yang tinggi dari para penarinya. 

Pada dasarnya, tari cakalele adalah salah satu bentuk tarian yang sangat sakral. Tarian perang ini juga tidak boleh dipentaskan oleh orang luar yang bukan bagian dari suku Maluku. Karena tarian ini hanya boleh dilakukan oleh anak adat setempat. 

Fungsi Tari Cakalele

tari cakalele
Gambar Oleh: http://tari-daerah-indonesia.blogspot.com/l

Untuk saat ini, tari cakalele memang lebih sering digunakan untuk pertunjukan saat akan menyambut tamu agung dan juga untuk acara adat. Tari cakalele memang tidak bisa selalu bisa dipertunjukkan, karena dipelukan banyak penari dan kelengkapan serta diperlukan persiapan yang membutuhkan biaya yang cukup tinggi dalam waktu yang lama. Secara umum, tari cakalele memerlukan penari setidaknya 30 orang. Selain itu, ada juga penabuh gendang, pemukul gong, pemegang umbul –umbul serta beberapa pemuka adat dengan pasangan suami istri yang melengkapi tarian ini. Jika dilihat secara adat, fungsi dari pelengkap ini tidak bisa diubah dan diganti dengan orang lain. Karena cakalele sendiri adalah tarian yang membentuk sebuah keutuhan adat yang sangat kental dengan sebuah ritual dan mistik. 

Untuk atraksi dari tari cakalele yang digunakan untuk penyambutan tamu jarang menggunakan parang seperti zaman dulu. Alat yang sering digunakan saat ini adalah dengan umbul-umbul yang terbuat dari daun kelapa. Sedangkan pakaian adat harus tetap digunakan ketika sedang melakukan tarian ini. Tapi, para penari juga boleh menggunakan pakaian adat yang lebih berkreasi ketika tarian cakalele digunakan untuk menyambut tamu. 

 

error: Isi artikel ini dilindungi !!